Ketegangan Memuncak, Iran Ancam Targetkan Fasilitas Air Usai Ultimatum AS

Ketegangan Memuncak, Iran Ancam Targetkan Fasilitas Air Usai Ultimatum AS

Ketegangan Memuncak, Iran Ancam Targetkan Fasilitas Air Usai Ultimatum AS--NET

SILAMPARITV.CO.ID - Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin meningkat setelah Iran mengeluarkan balasan ancaman terhadap fasilitas vital di kawasan, termasuk pabrik desalinasi air. Ancaman ini muncul sebagai respon atas peringatan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump , terkait pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.

BACA JUGA: Tekanan Inflasi dan Konflik Global Picu Kejatuhan Harga Emas Dunia

 

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan Komando Operasional Khatam Al-Anbiya melalui kantor berita Fars dan dikutip Arab News , Iran menegaskan akan menargetkan infrastruktur penting milik Amerika Serikat dan sekutunya jika fasilitas energi mereka diserang.

 

“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran dilanggar, maka semua infrastruktur energi, informasi teknologi, dan desalinasi milik AS dan Israel di kawasan akan menjadi sasaran,” demikian pernyataan tersebut.

BACA JUGA: Bolehkah Orang Tua Menggunakan Uang THR Anak? Ini Penjelasannya

BACA JUGA: Persiapan Mepet Jelang FIFA Series 2026, John Herdman Soroti Adaptasi Cepat Timnas Indonesia

 

Ancaman Meluas ke Infrastruktur Sipil

 

Konflik yang awalnya terfokus pada sektor energi kini berpotensi meluas ke fasilitas sipil yang sangat vital, seperti pabrik pengolahan udara. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat serangan terhadap infrastruktur termasuk jarang terjadi dalam konflik modern.

 

Ketegangan meningkat sejak terganggunya jalur perdagangan global di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.

BACA JUGA: Menurun Kecelakaan Lalu Lintas Saat Lebaran 2026, Fatalitas Turun Drastis

 

Pada 8 Maret 2026, Bahrain melaporkan serangan drone yang diduga berasal dari Iran telah merusak fasilitas desalinasi udara. Meski demikian, pemerintah setempat memastikan pasokan udara tetap dalam kondisi aman.

 

Di sisi lain, Iran juga menuding Amerika Serikat telah menyerang fasilitas serupa di Pulau Qeshm. Menteri Energi Iran, Abbas Aliabadi , menyebut serangan tersebut merusak jaringan distribusi udara yang melayani puluhan desa.

BACA JUGA: Memasuki Hari Ke-4 Idul Fitri, Antusiasme Kunjungan di Lapas Narkotika Muara Beliti Berangsur Reda

BACA JUGA: Perempuan 34 Tahun Ditemukan Meninggal di Mal Medan, Polisi Lakukan Penyelidikan

 

Risiko Krisis Air di Kawasan Kering

 

Para ahli merasa bahwa eskalasi konflik yang menyasar fasilitas udara dapat memicu krisis kemanusiaan yang lebih luas. Ekonom air, Esther Crauser-Delbourg , menilai dampaknya bisa jauh lebih besar dibandingkan konflik pada sektor lain.

 

Menurutnya, gangguan pasokan udara berpotensi menyebabkan penjagaan udara hingga perpindahan besar-besaran penduduk dari kota-kota besar.

BACA JUGA: Kecelakaan Maut di Jalinsum Muratara, Satu Orang Meninggal Dunia

 

“Kita berpotensi melihat kota-kota besar menghadapi eksodus dan penjatahan udara,” ujarnya.

 

Wilayah Timur Tengah sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan paling kering di dunia. Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ketersediaan udara di kawasan ini sekitar 10 kali lebih rendah dibandingkan rata-rata global.

BACA JUGA: Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, Penyeberangan Sumatera–Jawa Tetap Lancar dan Terkendali

Sumber: