Ramadhan dan Detoks Digital: Momentum Memulihkan Kesehatan Mental di Era Layar Tanpa Henti
Ramadhan dan Detoks Digital: Momentum Memulihkan Kesehatan Mental di Era Layar Tanpa Henti--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Ramadhan selama ini dimaknai sebagai bulan pengendalian diri. Umat Islam berlatih menahan lapar, dahaga, dan amarah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun di tengah era konektivitas yang nyaris tanpa jeda, muncul bentuk kelelahan baru yang tak kasatmata tetapi nyata dirasakan: burnout digital.
BACA JUGA:Ramai Peserta PBI Dinonaktifkan, Ini Tanggapan BPJS Kesehatan
BACA JUGA:Puasa Ramadan dan Kesehatan Lambung: Penjelasan Ahli Gastroenterologi soal Manfaatnya
Gejalanya hadir dalam bentuk kejenuhan, kecemasan, sulit berkonsentrasi, hingga rasa tertekan akibat paparan layar berlebihan. Setiap hari masyarakat dibanjiri notifikasi, pesan instan, rapat daring, serta arus informasi media sosial yang seakan tak pernah berhenti. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi pun semakin kabur. Bahkan saat beristirahat, tangan kerap refleks membuka aplikasi.
Di tengah situasi tersebut, Ramadhan menghadirkan peluang reflektif untuk melakukan detoks media sosial—sebuah jeda sadar dari kebiasaan digital yang melelahkan. Pertanyaannya, mampukah bulan suci ini menjadi momentum memulihkan relasi manusia dengan teknologi?
BACA JUGA:Inspirasi Menu Buka Puasa Sehat Ramadan 2026: Perpaduan Takjil Tradisional dan Hidangan Kekinian
BACA JUGA:Nippon Paint Revitalisasi Masjid Ikonik Agung As-Salam Lubuk Linggau, Sumatra Selatan
Burnout Digital dan Hilangnya Ruang Hening
Burnout digital bukan sekadar rasa bosan menggunakan gawai. Ia merupakan akumulasi kelelahan mental akibat paparan informasi terus-menerus. Rapat virtual yang beruntun, tuntutan respons cepat di grup percakapan, hingga tekanan untuk selalu aktif di media sosial menciptakan beban psikologis yang signifikan.
Di Indonesia, dengan tingkat penetrasi internet dan penggunaan media sosial yang tinggi, fenomena ini semakin relevan. Banyak pekerja dan mahasiswa merasa sulit benar-benar beristirahat karena selalu terhubung. Bahkan momen ibadah pun kerap diselingi dorongan untuk mendokumentasikan dan membagikannya secara daring.

Ruang hening tanpa gawai, internet dan penggunaan media sosial--ist
Akibatnya, ruang hening semakin menyempit. Padahal keheningan menjadi fondasi penting bagi refleksi diri. Tanpa hening, seseorang sulit mengenali kelelahan batin yang dialaminya.
Puasa sejatinya mengembalikan manusia pada kesadaran dasar tentang tubuh dan jiwa. Ketika rasa lapar hadir, individu belajar untuk lebih peka terhadap diri sendiri. Namun jika perhatian terus tersedot oleh layar, proses refleksi tersebut menjadi tidak utuh.
Burnout digital sering ditandai dengan kesulitan membaca teks panjang, mudah tersinggung, serta munculnya rasa cemas jika tidak membuka media sosial. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan atensi. Dalam konteks itu, detoks media sosial bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental.
Sumber: