Ancaman Geopolitik Bayangi Rupiah, Kurs Diperkirakan Bisa Menyentuh Rp20.400 per Dolar AS
Ancaman Geopolitik Bayangi Rupiah, Kurs Diperkirakan Bisa Menyentuh Rp20.400 per Dolar AS--NET
SILAMPARITV.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Pengamat menilai, mata uang Indonesia tersebut berada dalam posisi rentan dan berpotensi melemah hingga kisaran Rp20.400 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan.
Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, mengungkapkan bahwa proyeksi pelemahan ini bukan sekadar spekulasi, melainkan berdasarkan pola historis tekanan terhadap rupiah dalam satu dekade terakhir.
BACA JUGA:Jack Crawford Ambil Alih Mobil Alonso di FP1 GP Jepang, Aston Martin Fokus Pengembangan Pebalap Muda
BACA JUGA:Veda Ega Pratama Cetak Sejarah di Moto3 Brasil 2026, Indonesia Punya Bintang Baru
Menurutnya, anggapan bahwa ekonomi Indonesia kuat hanya karena ditopang cadangan devisa yang besar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental. Ia menilai sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar masih cukup rapuh serta sensitif terhadap gejolak eksternal, terutama konflik geopolitik.
BACA JUGA:Harga iPhone Melonjak, Dipicu iPhone 17 dan Krisis Chip Global
BACA JUGA:Duo Underdog Spanyol Bersinar di Lithuania, Arias–García Sapu Bersih Gelar FIP Padel Bronze 2026
Anthony menyoroti potensi konflik di Iran yang dapat mengganggu pasokan energi global. Kondisi tersebut berisiko mendorong kenaikan harga minyak dan gas serta berdampak luas terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
“Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,” ujarnya.
Ia juga mengkritisi struktur cadangan devisa Indonesia yang dinilai sebagian berasal dari akumulasi utang luar negeri, baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia. Menurutnya, tidak semua utang tersebut digunakan untuk kegiatan produktif, melainkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar.
BACA JUGA:Tips Jaga AC Mobil Tetap Dingin Saat Terjebak Macet Arus Balik Lebaran 2026
Dalam paparannya, Anthony mengingatkan tiga periode tekanan besar terhadap rupiah. Episode pertama terjadi pada September 2014 hingga September 2015, ketika cadangan devisa turun sekitar USD9,44 miliar dan rupiah terdepresiasi sekitar 20 persen, dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS. Saat itu, pemerintah merespons dengan penerbitan obligasi global seperti global bond dan Samurai bond senilai USD6,85 miliar.
Tekanan berikutnya terjadi pada Januari hingga Oktober 2018. Cadangan devisa turun USD17,13 miliar, sementara rupiah melemah 13,5 persen dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS. Pemerintah kembali mengandalkan utang luar negeri sekitar USD11,4 miliar untuk menjaga stabilitas.
BACA JUGA:Persaingan NBA 2026 Memanas: Thunder Perkasa, LeBron Ukir Sejarah Baru
Episode paling tajam terjadi pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020. Dalam waktu singkat, cadangan devisa turun USD10,7 miliar dan rupiah melemah hampir 20 persen dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS.
“Pengalaman ini menunjukkan bahwa cadangan devisa besar tidak otomatis menjamin stabilitas rupiah. Kuncinya adalah apakah aliran dana eksternal tetap masuk atau justru terhenti,” jelasnya.
BACA JUGA:Krisis Avtur Dampak Konflik Timur Tengah, Vietnam Kurangi Penerbangan Domestik
Secara jangka panjang, tren menunjukkan kontradiksi. Cadangan devisa meningkat dari sekitar USD100 miliar pada 2014 menjadi USD150 miliar pada Februari 2026, namun rupiah justru melemah dari kisaran Rp12.000 menjadi Rp17.000 per dolar AS.
Dalam dua bulan pertama 2026 saja, cadangan devisa tercatat turun sekitar USD4,6 miliar, meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri setara USD7,1 miliar dalam berbagai mata uang.
Anthony menilai faktor eksternal seperti konflik Timur Tengah dapat mempercepat tekanan terhadap rupiah, baik melalui lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok global, maupun perpindahan modal ke aset safe haven.
BACA JUGA:Oposisi Israel Soroti Motif Politik di Balik Perpanjangan Konflik Timur Tengah
BACA JUGA:Konflik Timur Tengah Berlanjut, Maskapai Global Perpanjang Penghentian Penerbangan
Berdasarkan data historis, ia memperkirakan pelemahan 15 hingga 20 persen dari posisi saat ini berpotensi membawa kurs ke level Rp20.400 per dolar AS dalam waktu tiga hingga enam bulan.
Sumber: