Meski Tembus Rp60 Ribuan, Harga Bensin di AS Masih Lebih Murah dari Negara Maju Lain
--
SILAMPARITV.CO.ID - Harga bensin di Amerika Serikat mengalami kenaikan signifikan hingga menembus lebih dari 4 dolar AS per galon, level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Iran, yang berdampak pada pasar energi global.
BACA JUGA:Krisis Selat Hormuz Jadi Alarm Global, Peralihan ke Energi Bersih Makin Mendesak
Kenaikan harga tersebut cukup sensitif bagi masyarakat AS, mengingat tingginya mobilitas warga yang rata-rata menempuh perjalanan hingga 13.000 mil per tahun. Namun demikian, meski harga meningkat, bensin di AS tetap tergolong lebih murah dibandingkan banyak negara maju lainnya.
Salah satu faktor utama adalah kapasitas produksi minyak domestik yang sangat besar. AS saat ini menjadi produsen minyak terbesar di dunia, sehingga lebih tahan terhadap gejolak pasokan global dibandingkan negara yang bergantung pada impor energi.
BACA JUGA:Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Iran Terapkan Protokol Ketat
Selain itu, kebijakan pajak juga menjadi pembeda signifikan. Berdasarkan analisis S&P Global Energy, pajak bahan bakar di AS termasuk yang terendah secara global. Dari rata-rata harga bensin sekitar 3,64 dolar AS per galon, hanya sebagian kecil yang berasal dari pajak federal dan negara bagian.
Sebaliknya, di negara-negara Eropa seperti Jerman, pajak justru menjadi komponen utama harga bahan bakar, bahkan bisa mencapai 50 hingga 60 persen dari total harga. Hal ini membuat harga bensin di negara tersebut jauh lebih mahal, mencapai sekitar 8,75 dolar AS per galon.
BACA JUGA:Ketegangan Timur Tengah Memanas, Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Distribusi Energi RI
Perbedaan serupa juga terlihat di Meksiko, di mana harga bensin lebih tinggi karena kontribusi pajak yang cukup besar. Kondisi ini bahkan mendorong sebagian warga di wilayah perbatasan untuk membeli bensin di negara bagian AS seperti Texas demi mendapatkan harga yang lebih murah.
Di AS, pajak bahan bakar umumnya digunakan untuk mendukung pembangunan dan perawatan infrastruktur jalan. Sementara di negara lain, pajak tersebut dimanfaatkan lebih luas, termasuk untuk pembiayaan transportasi publik dan kebutuhan anggaran pemerintah.
BACA JUGA:Kementerian Luar Negeri RI Pertimbangkan Nasib Pasukan Indonesia di Misi UNIFIL Lebanon
Sejumlah wilayah seperti California mulai menerapkan kebijakan tambahan seperti pajak karbon dan regulasi lingkungan untuk menekan penggunaan bahan bakar fosil. Namun, secara umum, kebijakan ini masih belum seketat yang diterapkan di kawasan Eropa.
Dengan kombinasi produksi minyak yang tinggi dan beban pajak yang relatif rendah, harga bensin di AS tetap lebih kompetitif di tengah tekanan pasar energi global.
BACA JUGA:Selat Hormuz Memanas, Sejumlah Negara Diberi Akses Iran, Bagaimana Nasib Kapal Indonesia?
Sumber: #hargabensin #energiglobal #amerikaserikat #krisisenergi #minyakdunia #pajakbbm #ekonomiglobal #geopolitik #energi2026