Sosok Dika, Bocah Penari Pacu Jalur yang Mendunia karena Aura Farming.

Senin 07-07-2025,09:45 WIB
Reporter : Rendi Setiawan
Editor : Rendi Setiawan

Polisi, Publik, dan Aura Budaya

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan turut hadir dalam perayaan Pacu Jalur dan ikut menari ala “aura farming”. Dalam pernyataannya, beliau menekankan pentingnya menjadikan budaya lokal sebagai alat edukasi:

“Aura farming Pacu Jalur bukan hanya pertunjukan seni, tapi juga bentuk edukasi dan pemersatu masyarakat.”

Menurutnya, membawa tradisi ke ruang publik seperti Car Free Day (CFD) adalah cara kreatif untuk menyatukan masyarakat lintas generasi dan latar belakang.

BACA JUGA:20 contoh soal studi kasus Try Out Uji Kompetensi Peserta Pendidikan Profesi Guru (UKPPPG) Tahun 2025

BACA JUGA:Awas! Ada Aplikasi Judol Menyamar Jadi Game, Ribuan Anak Terjerat!

Merayakan Budaya, Bukan Menyimpannya

Fenomena Dika bukan hanya tentang viralitas. Ini adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat mencintai budaya. Warisan budaya tidak seharusnya hanya disimpan di museum atau buku sejarah, tetapi diwariskan melalui aksi nyata, seni, dan ekspresi anak muda.

“Semangat pelestarian yang dibalut dalam kemasan kreatif ini membuktikan bahwa warisan budaya bukan untuk disimpan di masa lalu, melainkan dihidupkan dan dirayakan bersama di masa kini.”

BACA JUGA:Latihan Soal PAS Bahasa Indonesia Kelas 3 SD Semester 1

BACA JUGA:FAKTA: Dukun Palsu Pengganda Uang di Palembang, Gunakan Jenglot Online untuk Tipu Ratusan Juta Rupiah.

Penutup: Dari Tarian ke Warisan Dunia

Dika telah menunjukkan kepada kita bahwa satu tarian bisa membangkitkan warisan, satu semangat bisa menggerakkan bangsa. Pacu Jalur dan “aura farming”-nya bukan sekadar tren — ini adalah cermin bahwa budaya lokal kita luar biasa dan layak mendunia.

BACA JUGA:7 Resep Tumis Kangkung Enak, Praktis dan Cocok Jadi Menu Sarapan.

BACA JUGA: RI Berduka: Direktur RS Indonesia di Gaza, dr. Marwan Al-Sultan dan Keluarganya Gugur Akibat Serangan Israel

Kategori :