Tingginya angka stunting di daerah 3T juga menjadi bukti nyata adanya kesenjangan tersebut.
Enam Dimensi Inti Ideologi Kesehatan Indonesia
Melalui kajian panjang, IHDC merumuskan enam dimensi utama ideologi kesehatan Indonesia yang diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara idealisme dan realita:
Kedaulatan – Kendali nasional atas sumber daya kesehatan.
Komunitas dan Solidaritas – Gotong royong kesehatan berbasis komunitas.
Kesetaraan – Menghapus diskriminasi pada kelompok rentan, perempuan, disabilitas, dan masyarakat adat.
Ekonomi dan Jaminan Pembiayaan – Sistem pembiayaan adil, inklusif, dan nondiskriminatif.
Pendidikan dan Promosi Kesehatan – Literasi kesehatan sejak dini.
Tata Kelola – Birokrasi kesehatan transparan, partisipatif, dan berbasis teknologi.
Setiap dimensi dilengkapi dengan indikator keberhasilan yang terukur, seperti tingkat kepesertaan JKN, indeks literasi kesehatan, hingga sistem audit sosial digital berbasis komunitas.
BACA JUGA:Pasangan Gay Dihukum 76 Kali Cambuk di Aceh, Eksekusi Disaksikan Publik.
BACA JUGA:Samsung Rilis 9 Soundbar AI Baru di Indonesia, Harga Mulai Rp 2 Jutaan
Partisipasi Rakyat Jadi Roh Utama
Inisiator sekaligus Ketua Dewan Pembina IHDC, Prof. Nila F. Moeloek, menekankan bahwa partisipasi rakyat harus menjadi roh utama dalam pembangunan sistem kesehatan nasional.
“Tanpa partisipasi nyata dan kolektif, ideologi hanyalah slogan. Rakyat harus merasa sebagai pemilik sistem kesehatan, bukan hanya pengguna yang pasrah,” tegas Nila.
IHDC pun merekomendasikan penguatan layanan primer seperti Posyandu dan Puskesmas, agar kasus serupa seperti yang menimpa Raya bisa terdeteksi dan tertangani lebih dini.