Usulan Libatkan Praktisi dan Profiler
Ina menyarankan agar proses seleksi LPDP ke depan tidak hanya melibatkan pegawai kementerian dan kalangan akademisi. Ia menilai perlu adanya keterlibatan praktisi dari dunia industri hingga ahli analisis perilaku.
Menurutnya, pihak seperti venture capitalist, pendiri startup, HR perusahaan besar, hingga behavioral profiler dapat membantu menilai karakter kandidat secara lebih komprehensif.
“Tim penyeleksi jangan hanya pegawai kementerian dan akademisi. Libatkan venture capitalist yang biasa memilih founder, pendiri startup, HR perusahaan besar, dan profiler perilaku,” jelasnya.
BACA JUGA:Lomba Hafalan Surat Pendek oleh Silampari TV & WE Hotel Lubuklinggau Dibuka Sampai 13 Maret 2026
Ia menambahkan bahwa investor biasanya tidak hanya melihat IPK, tetapi juga menilai karakter, kepemimpinan, ketangguhan, serta kemampuan seseorang membangun sesuatu dari nol.
Karena itu, Ina menilai IPK masih dapat menjadi syarat, tetapi sebaiknya bukan satu-satunya faktor utama. Ia mengusulkan adanya tes profiling dan assessment yang lebih mendalam dalam proses seleksi.
BACA JUGA:Gerhana Bulan Total 2026 Menjadi Gerhana Satu-Satunya yang Terlihat dari Indonesia
Investasi Negara yang Harus Tepat Sasaran
Sebagai lulusan RMIT University Australia, Ina menekankan bahwa LPDP merupakan investasi besar negara yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Karena itu, sistem rekrutmen harus dirancang dengan lebih matang agar menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan Indonesia.
Ia juga menilai Indonesia saat ini tidak kekurangan figur publik atau influencer, tetapi lebih membutuhkan individu yang mampu menjalankan ide dan menciptakan inovasi.
“Kita sedang butuh lebih banyak orang yang bisa mengeksekusi dan berinovasi,” ujarnya
Ia pun menegaskan bahwa jika pemerintah menginginkan hasil yang berbeda dari program beasiswa tersebut, maka desain proses seleksi juga harus diperbaiki.
“Kalau kita mau hasil berbeda, jangan hanya menyalahkan alumninya. Perbaiki desain rekrutmennya,” pungkas Ina.