Serangan Harimau Berulang, Warga Muratara Hidup dalam Ketakutan

Minggu 26-04-2026,15:36 WIB
Reporter : Rendi Setiawan
Editor : Rendi Setiawan

SILAMPARITV.CO.ID - Konflik antara manusia dan satwa liar kembali terjadi di wilayah pedalaman Sumatera Selatan. Warga Desa Kuto Tanjung, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), kini dihantui rasa takut akibat kemunculan harimau yang semakin sering memasuki area kebun dan permukiman.

BACA JUGA:iCAR V27 Setir Kanan Resmi Diperkenalkan, SUV Elektrifikasi Lebih Besar dari V23

BACA JUGA:10 PTKIN Terbaik di Indonesia 2026 Versi Webometrics, UIN Bandung Pimpin Daftar

Dalam rentang waktu Januari hingga April 2026, sedikitnya 10 ekor kerbau milik warga dilaporkan menjadi korban serangan. Delapan di antaranya ditemukan mati, sementara dua lainnya selamat namun mengalami luka serius. Kejadian ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga memicu kekhawatiran akan keselamatan warga.

BACA JUGA:Puluhan Kapal Kontainer Tertahan di Teluk, Ganggu Arus Perdagangan Global

BACA JUGA:Reskrim Polsek Tanjung Lago Ringkus Pelaku Pencurian Besi Koperasi

Insiden terbaru terjadi pada Jum'at, 24 April 2026. Seekor kerbau milik warga bernama Tolip diserang saat berada di area kebun. Meski tidak sampai tewas, hewan tersebut mengalami luka cukup parah akibat gigitan predator tersebut.

BACA JUGA:HONOR Pad X8b Resmi Meluncur, Tablet Premium dengan Performa Andal dan Fitur Cerdas

BACA JUGA:Agnes Rahajeng Dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2026, Siap Wakili Indonesia ke Kancah Dunia

Kepala Desa Kuto Tanjung, Ahmad Syukri, membenarkan bahwa kejadian ini merupakan bagian dari serangkaian serangan yang terus berulang dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut, masyarakat kini semakin resah karena aktivitas sehari-hari seperti berkebun dan menggembalakan ternak tidak lagi terasa aman.

BACA JUGA:Indonesia Hajar Aljazair 5-0 di Piala Thomas 2026, Awal Sempurna di Grup D

BACA JUGA:Menurunkan Berat Badan Tanpa Kehilangan Otot, Kunci Diet Sehat dan Berkelanjutan

Menurutnya, tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan sempat melakukan peninjauan ke lokasi. Namun hingga saat ini, warga belum melihat adanya tindak lanjut yang signifikan untuk mengatasi persoalan tersebut.

BACA JUGA:Hari Malaria Sedunia 2026: Mimika Perkuat Upaya Tekan Kasus Hingga 2030

BACA JUGA:WhatsApp Uji Layanan Berbayar “Plus” Ini Fitur Premium dan Perkiraan Harganya

 

Diduga kuat, meningkatnya konflik ini dipicu oleh kerusakan lingkungan hutan yang menjadi habitat alami satwa liar. Berkurangnya sumber makanan di alam membuat predator seperti harimau keluar dari kawasan hutan dan mendekati wilayah pemukiman warga.

BACA JUGA:Infinix GT 50 Pro Meluncur di Indonesia: HP Gaming dengan Trigger L1-R1 dan Baterai Jumbo 6.500 mAh

BACA JUGA:Hari Otonomi Daerah 2026: 30 Tahun Menguatkan Peran Daerah untuk Indonesia Maju

Situasi ini mendorong masyarakat untuk mendesak pemerintah dan instansi terkait agar segera mengambil langkah konkret. Penanganan konflik satwa, peningkatan pengamanan wilayah, hingga upaya pemulihan ekosistem hutan dinilai penting agar kejadian serupa tidak terus berulang.

BACA JUGA:Donis Gantikan Renard, Arab Saudi Bertaruh Besar Jelang Piala Dunia 2026

BACA JUGA:Perlu Rutin Restart Ponsel? Ini Penjelasan Pakar Soal Manfaat dan Mitosnya

 

Warga berharap adanya solusi jangka panjang yang tidak hanya melindungi manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan alam dan keberlangsungan hidup satwa liar di habitatnya.

BACA JUGA:Di Balik Isu Kuota Hangus: Menimbang Keadilan Digital dan Pemerataan Internet di Indonesia

BACA JUGA:Magang Nasional Dievaluasi: Pemerintah Soroti Ketimpangan Peserta dan Akses Daerah

Kategori :