Secara teori, pemenuhan kebutuhan gizi memang berperan penting dalam mendukung konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan belajar peserta didik.
Namun demikian, hasil TKA terbaru menunjukkan bahwa peningkatan gizi saja belum cukup untuk menghasilkan lonjakan prestasi akademik dalam waktu singkat.
BACA JUGA:Jebol Ventilasi Sel, Empat Tahanan Polres Empat Lawang Kabur Saat Dini Hari
BACA JUGA:Satgas Kodam II/Sriwijaya Tangkap Terduga Bandar Narkoba, Polres Lahat Beri Apresiasi
Pengamat: Persoalan Pendidikan Bersifat Sistemik
Sejumlah pemerhati pendidikan menilai bahwa rendahnya hasil belajar siswa tidak bisa disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menilai tantangan utama pendidikan Indonesia mencakup kualitas guru, distribusi tenaga pendidik yang belum merata, perubahan kurikulum yang cukup sering terjadi, hingga proses pembelajaran yang belum sepenuhnya berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir kritis.
Selain itu, sejumlah temuan di lapangan juga menunjukkan masih adanya persoalan dalam pelaksanaan asesmen.
Profesor Martadi mengungkapkan bahwa saat supervisi pelaksanaan TKA ditemukan peserta yang kurang serius mengikuti ujian, bahkan ada yang bermain media sosial selama proses asesmen berlangsung.
Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan siswa, efektivitas pengawasan, serta budaya belajar yang berkembang di lingkungan pendidikan saat ini.
BACA JUGA:Jemaah Haji Asal Bengkulu Utara Wafat di Tanah Suci Setelah Menuntaskan Puncak Ibadah Haji
BACA JUGA:Rekayasa Begal Terbongkar, Ayah dan Anak di Musi Rawas Berurusan dengan Polisi
Evaluasi Menyeluruh Dibutuhkan
Berbagai kalangan sepakat bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat hanya mengandalkan satu program tertentu.
Perbaikan kualitas guru, penguatan literasi dan numerasi, pemerataan fasilitas pendidikan, stabilitas kebijakan kurikulum, hingga peningkatan integritas pelaksanaan asesmen menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian serius.
Program pemenuhan gizi seperti MBG dapat menjadi salah satu pendukung penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, keberhasilan pendidikan tetap memerlukan sinergi antara kebijakan yang tepat, tenaga pendidik yang kompeten, lingkungan belajar yang kondusif, serta partisipasi aktif orang tua dan masyarakat.