Barang Kerajinan & Tangan: Hasil kerajinan tangan seperti gerabah (alat dapur dari tanah liat), beliung (kapak batu untuk bertani/bertukang), serta perhiasan sederhana.
Bahan Makanan Awetan: Ikan yang telah dikeringkan agar tahan lama dan dapat didistribusikan ke daerah pedalaman.
Garam: Garam merupakan komoditas yang sangat berharga, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari laut. Masyarakat pesisir memproduksi garam untuk dipertukarkan dengan hasil bumi atau alat-alat kerajinan dari masyarakat pedalaman.
BACA JUGA:Waspada! Tiga Menu Sarapan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
Transportasi Prasejarah dan Jalur Perdagangan
Kegiatan barter pada zaman Neolitikum tidak terbatas pada lingkungan satu desa saja. Seiring berkembangnya kebutuhan dan spesialisasi wilayah, jangkauan pertukaran barang mulai meluas hingga mencakup jarak yang jauh.
Barang-barang barter diangkut melintasi daratan, sungai, hingga lautan menggunakan sarana transportasi sederhana:
Jalur Darat: Melalui jalan setapak dengan berjalan kaki sambil membawa beban barang dagangan.
Jalur Sungai: Menggunakan rakit-rakit bambu untuk menyusuri alir sungai menuju wilayah lain.
Jalur Laut: Memanfaatkan perahu lesung atau perahu bercadik untuk menjangkau pulau atau kawasan pesisir lain.
Melalui perjalanan barter ini, hubungan antardaerah mulai terjalin erat. Pertukaran ini tidak hanya memindahkan barang secara fisik, tetapi juga menjadi sarana penyebaran budaya, ide, serta teknologi antarwilayah yang sebelumnya terisolasi.
BACA JUGA:Sakit Gigi Sampai ke Telinga? Kenali Penyebab, Cara Mengatasi, dan Kapan Harus ke Dokter
BACA JUGA:Kejari Rejang Lebong Tetapkan Tiga Tersangka Dugaan Korupsi Dana BOSP SMPN 2 Rejang Lebong
Keterbatasan Sistem Barter dan Jalan Menuju Uang
Walaupun menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban, sistem barter memiliki beberapa kelemahan praktis yang cukup besar: