Ketika ASN Terbaik Terjebak, Mengurai Kutukan Kinerja di Birokrasi
Ketika ASN Terbaik Terjebak, Mengurai Kutukan Kinerja di Birokrasi--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Awal tahun seharusnya menjadi musim semi bagi birokrasi Indonesia. Di meja-meja tata usaha, katalog pelatihan dari berbagai lembaga diklat mulai menumpuk rapi. Jadwal disusun, anggaran diketok, dan hak 20 Jam Pelajaran (JP) per tahun bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali digaungkan. Di atas kertas, inilah mandat mulia regulasi agar setiap abdi negara terus bertumbuh kompetensinya, bukan sekadar menua di balik meja kerja.
BACA JUGA:Kenakan Kebaya dan Rambut Sasak, Pramugari Gadungan Nekat Terbang dan Viral di Palembang
BACA JUGA:Wali Kota Lubuk Linggau Hadiri Panen Raya Nasional, Dinas Pertanian Salurkan Alsintan
Namun, di balik ritual tahunan penyusunan rencana pengembangan kompetensi ini, terselip ironi yang terus berulang. Sebuah drama sunyi yang akrab di banyak kantor pemerintahan, tetapi jarang dibicarakan secara jujur.
Bayangkan sebuah unit kerja. Ada Staf A tulang punggung organisasi. Hampir 80 persen dokumen strategis dan layanan krusial bertumpu pada ketelitiannya. Meja kerjanya nyaris tak pernah bersih dari berkas. Di sisi lain, ada Staf B datang terlambat, kinerja biasa saja, dan kontribusinya minim terhadap target tim.
BACA JUGA:Mengapa Gulai Bersantan Begitu Melekat di Sumatera? Ini Penjelasan Sejarahnya
BACA JUGA:PS5 Bersiap Hadirkan 40 Lebih Game di 2026, Remake Ikonik dan Marvel Jadi Sorotan
Ketika tawaran pelatihan teknis bergengsi di hotel berbintang turun, siapa yang dikirim? Jawabannya hampir selalu Staf B.
Alasannya sederhana sekaligus menyakitkan: Staf A tidak boleh pergi. Jika ia absen tiga hari saja, layanan kantor bisa lumpuh. Sementara jika Staf B yang berangkat, roda kantor tetap berputar. Inilah yang dapat disebut sebagai “Kutukan Kinerja” sebuah anomali ketika produktivitas tinggi justru menjadi penjara bagi ASN andal.
Yang rajin dihukum dengan beban kerja, yang biasa-biasa saja “dihadiahi” pelatihan.
BACA JUGA:Kepala Puskesmas Sidorejo Bantah Isu Nepotisme, Sebut Nakes Silvia Langgar Kontrak
BACA JUGA:Respon Cepat IKM dan Dinsos Pulangkan Warga Agam ke Kampung Halaman
Jebakan Seleksi yang Keliru
Dalam perspektif ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai adverse selection seleksi yang merugikan. Pimpinan unit berada dalam dilema manajerial akut. Mereka tahu siapa yang berpotensi besar, tetapi tekanan target harian memaksa keputusan jangka pendek. Mengirim ASN terbaik berarti mengambil risiko kegagalan layanan publik.
Sumber: