Mobil Listrik dan Ancaman Banjir: Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai Pengguna
--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Meningkatnya populasi mobil listrik di Indonesia membuat isu ketahanannya terhadap banjir semakin sering dibicarakan. Di tengah anggapan bahwa kendaraan listrik lebih aman karena baterainya dirancang kedap air, para ahli justru mengingatkan bahwa risiko kerusakan tetap mengintai jika mobil listrik nekat melintasi genangan tinggi.
BACA JUGA:7 Tips Aman Berkendara Motor Saat Musim Hujan
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menegaskan bahwa mobil listrik tidak dirancang untuk digunakan secara bebas di kondisi banjir. Meski baterai utama kendaraan listrik sudah mengantongi sertifikasi ketahanan air seperti IP67 atau IP68, perlindungan tersebut hanya bersifat darurat, bukan untuk penggunaan ekstrem.
BACA JUGA:Tips Menjaga Kualitas Makanan Tetap Optimal Saat Musim Hujan
BACA JUGA:Cuaca Ekstrem Masih Berlangsung, BMKG Sebut Kondisi Normal Mulai April
Menurut Yannes, sumber masalah terbesar bukan terletak pada baterai tegangan tinggi, melainkan pada sistem kelistrikan 12 volt dan berbagai sensor elektronik yang tersebar di seluruh bagian kendaraan. Komponen seperti electronic control unit (ECU), modul ABS, sensor parkir, hingga sistem bantuan pengemudi (ADAS) umumnya tidak memiliki perlindungan air sekuat battery pack.
Air banjir, terutama yang bercampur lumpur atau mengandung garam seperti air rob, dapat mempercepat proses korosi pada komponen elektronik. Dampaknya sering kali tidak langsung terasa. Beberapa minggu atau bulan kemudian, pemilik kendaraan bisa mengalami gangguan seperti sensor error, fitur keselamatan mendadak tidak aktif, hingga muncul peringatan palsu pada sistem kendaraan.
BACA JUGA:Perawatan Maksimal, Petugas Lapas Muara Beliti Laksanakan Penaburan Pupuk Secara Berkala
BACA JUGA:Sopir Truk Asal Banyuasin Meninggal Dunia Usai Alami Serangan Jantung di Musi Rawas
Kerusakan akibat korosi tersebut biasanya bersifat permanen dan hanya bisa diatasi dengan penggantian modul elektronik. Selain biaya yang mahal dan ketersediaan suku cadang yang terbatas, proses penggantian juga memerlukan kalibrasi ulang sistem radar dan kamera. Jika kalibrasi tidak dilakukan dengan presisi, fitur keselamatan justru berisiko membahayakan pengemudi.
BACA JUGA:Tak Sekadar Warna, Ini Perbedaan Kandungan Gizi dan Manfaat Ubi Menurut Ahli
Sementara itu, baterai mobil listrik memang menjadi komponen yang paling terlindungi. Battery management system (BMS) dirancang untuk memutus aliran listrik secara otomatis apabila terdeteksi kebocoran arus. Namun, perlindungan ini tetap memiliki batas. Perendaman dalam waktu lama atau tekanan air yang tinggi dapat memicu rembesan kecil yang berujung pada korosi internal, kegagalan mendadak, bahkan risiko thermal runaway.
Yannes mengingatkan bahwa biaya penggantian battery pack tidak main-main, bisa mencapai 40 hingga 50 persen dari harga mobil baru. Oleh karena itu, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan, terutama saat musim hujan dan potensi banjir meningkat.
BACA JUGA:Viral Struk Palsu Dijual Online, Klaim Reimburse Fiktif Bisa Berujung Pidana dan PHK
Sumber: