BGN Gunakan Aplikasi Digital untuk Awasi Kualitas Program Makan Bergizi Gratis
BGN Gunakan Aplikasi Digital untuk Awasi Kualitas Program Makan Bergizi Gratis--Net
SILAMPARITV.CO.ID - Badan Gizi Nasional mulai menerapkan sistem pengawasan digital dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui aplikasi bernama Reviu Menu MBG (Organoleptik). Sistem ini digunakan untuk memantau kualitas, kelayakan, hingga keamanan makanan yang diterima para penerima manfaat secara langsung di lapangan.
BACA JUGA:Penggerebekan Judi Sabung Ayam di Musi Rawas Berlangsung Ricuh, 7 Orang Diamankan
BACA JUGA:Hutama Karya Pastikan Layanan Tol di Sumatera Tetap Beroperasi Meski Blackout
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, mengatakan aplikasi tersebut dirancang agar pengawasan program tidak hanya dilakukan internal oleh pelaksana, tetapi juga melibatkan sekolah dan posyandu.
“Aplikasi ini dikembangkan agar penerima manfaat ikut terlibat dalam pengawasan kualitas MBG. Dengan demikian Ka SPPG dan seluruh mitra semakin serius menjaga kualitas makanan yang didistribusikan,” ujar Sony dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
BACA JUGA:Presiden Prabowo Salurkan Sapi Kurban 850 Kilogram untuk Warga Lubuklinggau
BACA JUGA:Pengumuman SNBT 2026 Resmi Dibuka, Berikut Cara Cek dan Daftar Link PTN Mirror
Melalui aplikasi itu, guru yang ditunjuk pihak sekolah dan kepala posyandu (Kaposyandu) berperan sebagai PIC kelompok penerima manfaat MBG. Setelah makanan diterima, mereka dapat langsung memberikan penilaian melalui sejumlah indikator yang tersedia dalam sistem.
Beberapa aspek yang dipantau meliputi ketepatan waktu distribusi, aroma makanan, rasa makanan, hingga variasi menu yang diberikan kepada penerima manfaat. Sistem ini diharapkan mampu menjadi alat deteksi dini apabila ditemukan masalah pada makanan yang dibagikan.
BACA JUGA:Ribuan Slankers Padati Jakabaring, Konser Slank di Palembang Berlangsung Meriah
Berdasarkan data Dashboard Reviu Menu MBG hingga Sabtu (23/5/2026) pukul 21.31 WIB, tercatat sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.705 laporan atau sekitar 99,88 persen menyatakan makanan dalam kondisi layak konsumsi. Sementara hanya dua laporan yang menyebut makanan tidak layak dimakan.
BACA JUGA:Usai Isi BBM, Motor di Lubuklinggau Mendadak Terbakar di Dekat SPBU
Sumber: