Cara Mengenali Orang dengan Kemampuan Berpikir dan Empati Rendah dari Respons Saat Curhat

Cara Mengenali Orang dengan Kemampuan Berpikir dan Empati Rendah dari Respons Saat Curhat

Cara Mengenali Orang dengan Kemampuan Berpikir dan Empati Rendah dari Respons Saat Curhat-- ist

SILAMPARITV.CO.ID - Ketika seseorang menceritakan masalah atau keluh kesahnya, respons dari lawan bicara dapat menunjukkan banyak hal tentang cara mereka berkomunikasi. Bukan hanya soal kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana seseorang memahami emosi, membaca situasi, serta menghargai perasaan orang lain.

Namun, perlu diluruskan bahwa cara seseorang merespons curhatan tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan tinggi atau rendahnya IQ. Kecerdasan seseorang perlu dinilai melalui tes yang tepat. Respons saat mendengarkan lebih banyak berkaitan dengan kemampuan komunikasi, empati, pengendalian diri, dan kecerdasan emosional.

Meski demikian, terdapat sejumlah pola komunikasi yang dapat membuat seseorang terlihat kurang peka atau memiliki kemampuan memahami situasi sosial yang terbatas.

BACA JUGA:Tiga Guru SDIT Rabbani Bengkulu Diberhentikan, Ririn Ungkap Kronologi dan Persoalan PPG

BACA JUGA:Daftar Bunga Deposito BRI, BNI, dan Bank Mandiri Terbaru Agustus 2026

Sering Menyela Sebelum Cerita Selesai

Salah satu kebiasaan yang mudah terlihat adalah memotong pembicaraan. Orang tersebut belum selesai mendengarkan, tetapi sudah buru-buru menyampaikan pendapat atau pengalamannya sendiri.

Kebiasaan ini dapat membuat orang yang sedang curhat merasa tidak dihargai. Selain itu, terlalu cepat memberikan respons juga berisiko membuat pendengar salah memahami persoalan karena belum mengetahui cerita secara lengkap.

Pendengar yang baik biasanya memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan.

Mengubah Curhatan Menjadi Ajang Adu Nasib

Pola lain yang sering muncul adalah kebiasaan membandingkan masalah.

Misalnya, ketika seseorang mengatakan sedang mengalami tekanan pekerjaan, lawan bicara justru menjawab dengan cerita bahwa dirinya memiliki masalah yang jauh lebih berat.

Dalam kajian komunikasi, pola seperti ini dikenal sebagai shift response, yaitu ketika perhatian percakapan bergeser dari pengalaman orang yang sedang berbicara menuju pengalaman diri sendiri.

Padahal, tidak semua curhatan membutuhkan perbandingan. Terkadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan.

Sumber: