Kini, cangkang telur yang ia jual banyak dimanfaatkan oleh pembeli untuk berbagai kebutuhan seperti:
Pupuk tanaman dan media tanam
Bahan kerajinan tangan seperti kaligrafi
Campuran pakan ternak atau hewan peliharaan
BACA JUGA: Demo Tolak Tambang Emas Ilegal di Muratara Ricuh, Warga Blokir Jalan dan Polisi Amankan Provokator
Menggerakkan Ekonomi Warga Sekitar
Melihat permintaan yang tinggi, Waluyo pun menggandeng ibu-ibu rumah tangga dan tukang kue di sekitar tempat tinggalnya untuk mengumpulkan cangkang telur. Ia membeli limbah mereka dan mengolahnya kembali untuk dijual, sehingga menciptakan lingkaran ekonomi lokal yang saling menguntungkan.
"Saya beli dari ibu-ibu dan tukang kue. Mereka juga senang, limbahnya jadi uang," ucapnya.
BACA JUGA:Nasib Brigpol J, Oknum Polisi Lubuklinggau yang Digerebek Bersama Istri Orang di Villa.
BACA JUGA:Jangkau 67 Ribu Desa, AgenBRILink Terus Perkuat Inklusi Keuangan di Indonesia
Tanpa Modal, Tapi Hasil Menjanjikan
Yang paling menarik, Waluyo memulai usahanya tanpa modal sepeser pun. Karena bahan bakunya berasal dari dapur sendiri, ia menyebut modal awalnya adalah nol rupiah. Hasil penjualan pertamanya diputar kembali untuk membiayai pembelian cangkang dari warga sekitar.
"Dari awal nggak ada modal. Limbah sendiri, jadi saya anggap gratis. Sekarang bisa buat mencukupi kebutuhan harian keluarga," ungkapnya bangga.
Kisah Waluyo jadi inspirasi bahwa peluang usaha bisa datang dari mana saja, bahkan dari limbah yang sering kita anggap tak berguna.
BACA JUGA:Wacana Haji Lewat Jalur Laut, Menag: Kita Sudah Ada Pengalaman Sebelumnya