Ketiga, masifikasi micro-credential.
Pelatihan tidak harus meninggalkan kantor berhari-hari. Modul singkat berbasis digital yang bisa diakses 1–2 jam per hari adalah solusi realistis bagi ASN dengan beban kerja tinggi.
Keempat, orientasi pada dampak, bukan sertifikat.
Setiap ASN yang mengikuti pelatihan wajib menghasilkan proyek perubahan nyata. Tanpa dampak terukur, sertifikat hanyalah kertas tak bernyawa.
BACA JUGA:Aman dan Efektif, 5 Cara Membersihkan Kerak Kompor Gas Hingga Kinclong.
BACA JUGA:Aksi Humanis Damkar Bekasi, Bujuk Remaja 15 Tahun yang Takut Disunat
Rajin Bukan Kutukan, Tapi Tiket Emas
Membiarkan ASN produktif “kelaparan” ilmu adalah bentuk sabotase halus terhadap kemajuan bangsa. Seperti atlet elite yang membutuhkan porsi latihan terbaik, birokrat terbaik juga butuh asupan pengetahuan paling mutakhir.
Sudah saatnya kita membebaskan para “Staf A” dari sandera tumpukan berkas. Biarkan mereka belajar, bertumbuh, dan kembali membawa gagasan segar.
Jangan biarkan kerajinan menjadi kutukan. Jadikan ia tiket emas menuju birokrasi yang cerdas, adaptif, dan benar-benar melayani rakyat.
BACA JUGA:Sederhana tapi Ampuh, 5 Kebiasaan Sebelum Tidur untuk Turunkan Tekanan Darah