Dampaknya terlihat jelas dalam data. Indeks Profesionalitas ASN nasional tahun 2024 yang dirilis Badan Kepegawaian Negara masih didominasi kategori “Sedang” pada rentang nilai 71–80. Predikat “Tinggi” apalagi “Sangat Tinggi” belum tercapai secara merata. Ini menandakan bahwa pelatihan massif selama ini sering salah sasaran.
Negara mengalami kerugian ganda. Anggaran terserap untuk pelatihan yang minim dampak, sementara ASN produktif justru mengalami stagnasi kompetensi dan kelelahan mental. Kerja keras mereka dibalas dengan beban tambahan, bukan peluang berkembang.
BACA JUGA:Viral! Nakes Lubuklinggau Mengaku Diberhentikan Sepihak oleh Puskesmas
Ilusi Meritokrasi Birokrasi
Kita kerap menggaungkan sistem merit sebagai fondasi reformasi birokrasi. Namun praktik pengiriman pelatihan “asal kirim” adalah antitesisnya. Di sektor privat, pelatihan adalah investasi elite untuk top talent. Di birokrasi, pelatihan sering tereduksi menjadi liburan berlabel sertifikat.
Dalih klasik “tidak ada pengganti” membongkar kelemahan struktural birokrasi kita: masih person-based, bukan system-based. Terlalu bergantung pada sosok superman dan superwoman di level pelaksana.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya serius. Dengan 4,7 juta ASN yang kini didominasi generasi Milenial dan Gen Z, idealisme mereka bisa tumpul. Rajin tidak lagi dianggap sebagai jalan maju, melainkan jebakan stagnasi. Dalam jangka panjang, visi Indonesia Emas 2045 terancam oleh birokrasi yang lelah, jenuh, dan kurang kompeten.
BACA JUGA:Hadapi KUHP Baru, Lapas Narkotika Muara Beliti Perkuat Pelayanan Tahanan Lewat Zoom Ditjen PAS
Membalik Logika: Jalan Keluar Kutukan Kinerja
Masih ada waktu untuk bertindak, terutama di awal tahun perencanaan diklat. Beberapa langkah strategis perlu diterapkan secara tegas:
Pertama, kuota pelatihan berbasis kinerja.
Wajibkan minimal 70 persen pelatihan strategis diisi ASN dengan predikat kinerja Baik dan Sangat Baik. Sisanya 30 persen untuk program remedial. Ini memaksa pimpinan melakukan manajemen tugas yang benar, bukan jalan pintas.
Kedua, institusionalisasi rotasi tugas.
Ketakutan kantor lumpuh saat satu orang pergi adalah tanda kegagalan sistem. Setiap tugas krusial harus punya cadangan. Pelatihan harus menjadi stress test sistem, bukan alasan menyandera pegawai andal.