“Badannya pegal semua, malamnya keluar busa dari mulut. Setelah itu terjadi pendarahan dari mulut dan napasnya tersengal-sengal,” ungkap Febriani dengan suara lirih.
Tak lama kemudian, kondisi korban semakin kritis hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.
BACA JUGA:Resmi Berlaku 2026, Surat Tanah Girik dan Letter C Diganti SHM, Ini Rincian Biayanya
BACA JUGA:Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti Komitmen Bebas Narkoba, Gelar Tes Urine Pegawai
Warga Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Febriani juga mengungkapkan bahwa sebelum sakit, Bilqis kerap bermain di rumah neneknya yang berada di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Puncak Kemuning.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat, mengingat di wilayah tersebut telah terdapat beberapa kasus DBD.
“Di lingkungan neneknya sudah ada tiga anak yang terkena DBD. Anak saya ini satu-satunya yang meninggal,” katanya.
BACA JUGA:Usai Mediasi Dinkes, Silvia Pasmasari Kembali Bertugas di Puskesmas Sidorejo Lubuklinggau
BACA JUGA:Tak Semua Bisa Melapor, Ini Pihak yang Berhak Laporkan Kumpul Kebo Menurut KUHP 2026
Tanggapan Dinas Kesehatan
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau, Marlinda, mengaku belum menerima laporan resmi terkait kasus tersebut. Meski demikian, pihaknya berjanji akan segera menindaklanjuti informasi yang diterima.
“Terima kasih atas informasinya. Akan segera kami tindaklanjuti dengan menurunkan puskesmas setempat untuk melakukan pemantauan di lapangan,” ujarnya.
Kasus ini menambah kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya penyebaran DBD, khususnya di musim penghujan, serta mendorong perlunya langkah cepat berupa fogging, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan edukasi kesehatan kepada warga.
BACA JUGA:Tega Setubuhi Anak Kandung Berulang Kali, Ayah di Musi Rawas Akhirnya Ditangkap Polisi
BACA JUGA:Ojol Dapat Diskon 50 Persen Iuran BPJS Ketenagakerjaan, Pekerja Informal Lain Menyusul April