SILAMPARITV.CO.ID - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta Bank Indonesia segera mengambil langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah agar kembali mendekati level Rp16.500 per dolar Amerika Serikat.
Permintaan tersebut disampaikan langsung kepada Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
BACA JUGA:Kalapas Lubuk Linggau Hadiri Tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 di Palembang
BACA JUGA:Indonesia Kirim Pupuk Urea ke Australia, Nilai Ekspor Ditargetkan Tembus Rp7 Triliun
Menurut Misbakhun, angka Rp16.500 per dolar AS merupakan asumsi makro yang telah disepakati pemerintah dan DPR dalam pembahasan APBN 2026 sehingga perlu dijaga bersama.
“Tadi Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa kesepakatan politiknya yang di Rp16.500, dan kita minta tidak muluk-muluk supaya nilai tukar dibawa kepada angka stabilisasi di 16.500,” ujar Misbakhun.
BACA JUGA:Lapas Lubuk Linggau dan Dukcapil Bersinergi Lakukan Perekaman KTP Elektronik bagi Warga Binaan
BACA JUGA:Anggota Komisi XIII DPR RI Berikan Penguatan Tugas Pemasyarakatan di Lapas Lubuk Linggau
Desakan itu muncul setelah nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan sempat berada di level Rp17.600 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai memberi dampak besar terhadap perekonomian nasional, terutama sektor impor.
BACA JUGA:Anggota Komisi XIII DPR RI Tinjau SAE Lapas Lubuk Linggau, Dukung Pembinaan Kemandirian Warga Binaan
Misbakhun menyoroti fakta bahwa sejak awal Januari 2026 rupiah belum pernah kembali menyentuh kisaran Rp16.500 per dolar AS. Ia menyebut penguatan rupiah baru diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang.
“Sejak 1 Januari 2026 rupiah belum pernah berada pada kisaran level Rp16.500. Ini harus menjadi perhatian Bank Indonesia agar rata-rata nilai tukar sesuai asumsi makro,” katanya.
BACA JUGA:Pemerintah Siapkan Aturan Baru untuk Marketplace, Kenaikan Biaya Admin Tak Boleh Mendadak
BACA JUGA:Lapas Lubuk Linggau Terima Sertifikat Tera Ulang Timbangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Ia menilai pelemahan rupiah saat ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena biaya impor menjadi lebih mahal. Dampaknya tidak hanya dirasakan pemerintah dalam impor BBM dan LPG, tetapi juga sektor swasta yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.