Di Balik Budaya Scroll, Survei Ungkap Gen Z Jadi Generasi Paling Gemar Membaca

 Di Balik Budaya Scroll, Survei Ungkap Gen Z Jadi Generasi Paling Gemar Membaca

Di Balik Budaya Scroll, Survei Ungkap Gen Z Jadi Generasi Paling Gemar Membaca--Net

Mencari Keseimbangan di Era Distraksi

Paradoks inilah yang dicermati oleh Cania Cita dan Abigail Limuria. Keduanya menilai generasi muda tidak kehilangan minat baca, melainkan tengah berupaya menemukan keseimbangan di tengah derasnya distraksi digital.

“Orang sebenarnya masih mau membaca. Namun kita hidup di lingkungan yang terus menarik perhatian kita ke arah lain. Buku akhirnya kalah bukan karena tidak relevan, tapi karena distraksinya terlalu kuat,” ujar Cania saat peluncuran Malaka Books di Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026).

Abigail menambahkan, tingginya minat baca Gen Z mencerminkan kebutuhan akan pemahaman yang lebih mendalam, bukan sekadar konsumsi informasi cepat. Menurutnya, ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu dan benar-benar memahaminya.

Keduanya sepakat bahwa kebiasaan menerima informasi secara terfragmentasi berisiko membuat pemahaman menjadi dangkal. Membaca buku, sebaliknya, melatih pembaca untuk menyelami konteks secara utuh.

BACA JUGA:Kampanyekan Tertib Lalu Lintas dan Anti Hoax, PWI dan Polisi Berbagi Takjil Sekaligus Edukasi

BACA JUGA:Tetap Aktif di Bulan Ramadan, Lapas Narkotika Muara Beliti Hadirkan Layanan Pangkas Rambut bagi Warga Binaan

Cania juga menegaskan bahwa kebiasaan membaca dalam jangka panjang dapat melatih attention span dan memperkuat kemampuan berpikir mendalam sebuah syarat penting untuk belajar dan membangun keahlian di bidang tertentu.

Sebagai respons atas refleksi tersebut, mereka mendirikan Malaka Books sebagai penerbit yang berupaya membuka kembali ruang bagi gagasan panjang. Pendekatan yang digunakan pun disesuaikan dengan karakter generasi digital, mulai dari desain visual hingga strategi distribusi.

BACA JUGA:Tingkatkan Kompetensi Warga Binaan, Lapas Narkotika Muara Beliti Optimalkan Program Pendidikan

BACA JUGA:Tips Simpan Kolang Kaling Agar Awet Selama Ramadan, Cegah Lendir dan Bau Tak Sedap

Fenomena maraknya komunitas baca, tren BookTok, hingga silent reading club di berbagai kota menjadi bukti bahwa kebutuhan akan kedalaman tidak benar-benar hilang. Generasi yang kerap dilabeli paling “medsos” justru menunjukkan bahwa membaca tetap memiliki tempat.

Di tengah budaya scroll dan perhatian yang kian terfragmentasi, realitas ini menjadi pengingat bahwa aktif di media sosial tidak otomatis berarti kehilangan minat baca. Tantangan terbesar tampaknya bukan pada kemauan membaca, melainkan kemampuan menjaga fokus di tengah distraksi yang semakin masif.

Sumber: