Krisis Selat Hormuz Jadi Alarm Global, Peralihan ke Energi Bersih Makin Mendesak
--
SILAMPARITV.CO.ID - Ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz kembali menyoroti rapuhnya ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil. Gangguan distribusi energi akibat konflik di kawasan tersebut memicu lonjakan harga serta kelangkaan pasokan di berbagai negara.
Isu ini menjadi sorotan utama dalam pertemuan para menteri iklim dunia yang digelar di Berlin. Forum tersebut membahas langkah strategis menjelang COP31 yang dijadwalkan berlangsung di Turkiye pada November mendatang, dengan Australia sebagai tuan rumah bersama.
BACA JUGA:Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Iran Terapkan Protokol Ketat
Penutupan jalur vital energi global ini memaksa sejumlah negara mengambil langkah darurat, mulai dari pembatasan distribusi bahan bakar hingga kembali mengandalkan batu bara demi menjaga stabilitas pasokan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem energi berbasis fosil masih rentan terhadap gejolak geopolitik.
Menteri Iklim Turkiye, Murat Kurum, menilai krisis ini sebagai peringatan nyata bahwa bahan bakar fosil tidak menjamin keamanan energi jangka panjang. Ia menekankan pentingnya investasi pada energi alternatif guna menciptakan sistem energi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Ketegangan Timur Tengah Memanas, Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Distribusi Energi RI
Pandangan serupa disampaikan oleh Menteri Iklim Australia, Chris Bowen, yang menilai energi terbarukan sebagai solusi paling efektif dan ekonomis untuk menghadapi ketidakpastian global. Ia mendorong negara-negara untuk mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan andal.
BACA JUGA:QRIS Mendunia: Kini Bisa Dipakai di Korea Selatan, Ini Daftar Negara Lainnya
Meski investasi pada energi bersih kini meningkat signifikan—bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil—tantangan tetap besar. Emisi global dari penggunaan batu bara, minyak, dan gas justru mencetak rekor tertinggi pada 2025, meskipun hampir 200 negara telah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan tersebut sejak COP28.
Dengan latar belakang tersebut, implementasi konkret dalam COP31 akan menjadi sorotan dunia. Terlebih, negara tuan rumah dan mitranya masih memiliki ketergantungan besar terhadap energi fosil, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam mendorong perubahan nyata.
BACA JUGA:Kementerian Luar Negeri RI Pertimbangkan Nasib Pasukan Indonesia di Misi UNIFIL Lebanon
Sumber: #energiterbarukan #krisisenergi #selathormuz #cop31 #perubahaniklim #transisienergi #energibersih #globalnews