Fakta atau Mitos? Ini Penjelasan Medis soal Minum Air Hangat Pagi Hari dan Kelancaran BAB

Fakta atau Mitos? Ini Penjelasan Medis soal Minum Air Hangat Pagi Hari dan Kelancaran BAB

Fakta atau Mitos? Ini Penjelasan Medis soal Minum Air Hangat Pagi Hari dan Kelancaran BAB--Net

Namun secara fisiologis, ada beberapa penjelasan yang masuk akal. Pertama, air membantu melunakkan feses. Dehidrasi merupakan salah satu faktor risiko sembelit, sehingga mencukupi kebutuhan cairan memang penting untuk menjaga kelancaran BAB.

BACA JUGA:Jalankan Amanat Pemerintah, PLN Kawal Tuntas Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan Desa Pedamaran OKI

BACA JUGA:Libur Idulfitri 2026 Resmi Ditetapkan, Sekolah Libur 10 Hari

Kedua, suhu hangat dapat membantu merelaksasi otot-otot saluran cerna. Efek relaksasi ini berpotensi mendukung pergerakan usus (motilitas) sehingga sisa makanan lebih mudah terdorong keluar.

Ahli gastroenterologi dari NYU Langone Health, Lisa Ganjhu, menilai kebiasaan ini bukanlah hal baru. Dalam Ayurveda, terdapat ritual serupa bernama usha paana, yakni minum air hangat atau suhu ruang saat perut kosong di pagi hari.

“Minum air hangat di pagi hari membantu membuang racun, merangsang pencernaan, dan menghidrasi tubuh setelah beristirahat semalaman. Ini sangat baik untuk kesehatan usus,” jelasnya.

BACA JUGA:Sumsel Siaga Penuh Hadapi Mudik Idulfitri 1447 H

BACA JUGA:Tebar Kebaikan di Bulan Suci, Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti Bagikan Takjil Gratis kepada Masyarakat

Mengapa BAB Sering Terjadi di Pagi Hari?

Selama tidur, sistem pencernaan bekerja lebih lambat. Saat bangun dan mulai minum, sistem tersebut kembali aktif. Menurut Dr. Ganjhu, asupan cairan di pagi hari membantu “membangunkan” saluran cerna.

“Ini dapat membantu meningkatkan motilitas saluran cerna dan membantu mengeluarkan sisa makanan dari hari sebelumnya,” ujarnya.

Prosesnya terjadi secara berantai. Cairan yang masuk akan mengaktifkan kerongkongan, lambung, usus halus, hingga kolon—bagian terakhir sebelum proses BAB. Selain efek hidrasi, respons ini juga dipengaruhi oleh refleks gastrokolik, yaitu refleks alami tubuh yang merangsang BAB setelah makan atau minum.

Artinya, bukan semata-mata karena suhu hangatnya, melainkan kombinasi antara hidrasi dan stimulasi sistem pencernaan.

BACA JUGA:Gubernur Herman Deru Respons Keluhan Warga Soal Air Bersih

BACA JUGA:Kabar Duka Nasional, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Wafat di RSPAD Gatot Soebroto

Sumber: