Kumpulan Contoh Puisi Rohani Tentang Jumat Agung 2025
Kumpulan Contoh Puisi Rohani Tentang Jumat Agung 2025--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Jumat Agung 2025, yang jatuh pada tanggal 18 April 2025, kembali mengajak umat Kristiani di seluruh dunia untuk merenungkan makna terdalam dari kasih dan pengorbanan Kristus di kayu salib. Dalam suasana penuh keheningan dan kesyahduan ini, berbagai ekspresi iman mengalir dari hati umat, salah satunya melalui puisi-puisi rohani yang menggambarkan penderitaan, cinta, dan harapan yang terpancar dari salib Kristus.
Di berbagai gereja dan komunitas Kristen di Indonesia, khususnya kalangan muda, Jumat Agung tak hanya diperingati dengan ibadah khidmat, tetapi juga melalui seni puisi yang menyentuh hati. Beberapa sekolah Kristen, kelompok remaja gereja (remaja gereja/pemuda), hingga komunitas sastra rohani menggelar lomba dan pembacaan puisi Jumat Agung sebagai bentuk refleksi iman yang kreatif.
BACA JUGA:Wali Kota Lubuklinggau Kukuhkan Pengurus TP PKK, Tim Posyandu, dan GOW Periode 2025–2030
BACA JUGA:Perpustakaan Daerah Kabupaten Musi Rawas Hadir Sebagai Pusat Literasi Modern dan Inklusif
Puisi, Suara Jiwa yang Menyapa Langit
Puisi menjadi media yang mampu merangkum rasa duka, haru, syukur, dan pengharapan dalam satu tarikan kata. Dalam momen Jumat Agung 2025, puisi tidak sekadar karya sastra, tapi menjadi doa yang terucap dalam bait-bait lirih, menyentuh sisi spiritual setiap pendengar.
Salah satu contoh puisi yang banyak dibagikan menjelang Jumat Agung tahun ini adalah puisi berjudul:
BACA JUGA:Wujudkan Impian Warga 7 Kecamatan di Muba Terang Benderang Nikmati Listrik PLN
"Di Bawah Bayang Salib"
(Puisi Reflektif Jumat Agung 2025)
Di bawah bayang salib yang senyap,
kulihat luka bukan sekadar luka,
kulihat cinta bukan sekadar kata.
Ada darah yang berbicara
dan paku yang memaku bukan hanya daging,
tapi dosa dunia yang kau tanggung diam-diam.
Yesus, di bukit Golgota Engkau tak menyerah,
meski langit pun turut menangis,
bumi retak oleh kesedihan surgawi.
Namun dalam deritamu,
kami belajar tentang kasih tanpa syarat
dan ampun yang melampaui batas.
Kami datang,
bukan membawa emas atau dupa,
tapi jiwa-jiwa rapuh
yang rindu dipulihkan.
Di Jumat Agung ini,
jadikan kami saksi kasihMu
yang tak pernah padam oleh maut.
BACA JUGA:Kunci Jawaban IPS Kelas 7 Halaman 210 Kurikulum Merdeka: Unsur-Unsur Iklim dalam Aktivitas Kelompok
Judul: "Golgota di Dalam Hati"
Di puncak senyap sebuah bukit,
kudengar ratap bumi yang patah.
Langit seakan terbelah,
menyaksikan tubuh-Mu yang tergantung lemah.
Paku itu menembus tak hanya daging,
tapi kesombongan,
kedegilan,
dan dosa yang kukenakan hari-hari.
Salib yang Kau pikul tak hanya berat,
tapi juga kudus.
Di sana, cinta tak sekadar kata,
melainkan darah yang mengalir
untuk dunia yang belum tentu peduli.
Ya Tuhan,
jadikan hatiku satu Golgota kecil
tempat kasih-Mu menancap dan bertumbuh.
Agar setiap Jumat Agung
tak hanya kulalui dalam air mata,
tapi dalam hidup yang berubah
karena salib yang menghidupkan.
BACA JUGA:Gowes Bareng Kapolda Sumsel dan Bupati Musi Rawas, Pererat Sinergi dan Gaya Hidup Sehat
Makna Puisi Jumat Agung: Membawa Iman ke Dalam Kehidupan
Puisi-puisi seperti "Di Bawah Bayang Salib" menjadi bentuk kontemplasi iman, mengingatkan bahwa Jumat Agung bukan sekadar hari penuh kesedihan, tetapi juga simbol kemenangan kasih yang mengalahkan maut.
Banyak sekolah dan gereja menggunakan puisi sebagai bagian dari rangkaian ibadah Jumat Agung, baik dalam bentuk pembacaan puisi saat renungan, penampilan teater puisi, hingga lomba cipta puisi bertema "Kasih Kristus", "Salib dan Pengampunan", atau "Jalan Salib".
Jumat Agung 2025: Momentum Menghidupkan Kasih Kristus di Tengah Dunia
BACA JUGA:Proaktif Dalam Pelayanan Haji, BRI Sediakan Banknotes untuk Living Cost Jemaah Haji 2025
Wafatnya Yesus di kayu salib dua ribu tahun silam bukan hanya sejarah iman, tapi menjadi peristiwa kasih yang hidup dalam setiap tindakan nyata umat-Nya saat ini. Melalui puisi, umat diajak untuk menuliskan kembali kisah kasih itu, bukan di batu atau kitab saja, tapi dalam hati dan laku kehidupan sehari-hari.
Gereja-gereja dan komunitas diajak untuk tidak hanya memaknai Jumat Agung sebagai momen pasif, tetapi sebagai langkah awal untuk pembaruan diri, menghidupi kasih, pengampunan, dan pengorbanan dalam relasi antarsesama.
BACA JUGA:Korea Selatan Lolos ke Semifinal Piala Asia U-17 2025 dan Siap Tantang Tuan Rumah Arab Saudi
Sumber: