Strain Yamagata Hilang dari Peredaran, Vaksin Influenza Kini Beralih ke Trivalen
Strain Yamagata Hilang dari Peredaran, Vaksin Influenza Kini Beralih ke Trivalen--Net
SILAMPARITV.CO.ID - Perubahan signifikan dalam peta penyebaran virus influenza global mendorong penyesuaian komposisi vaksin. Para ahli kini mengonfirmasi bahwa vaksin influenza tidak lagi menggunakan formula empat strain (quadrivalent), melainkan beralih menjadi tiga strain (trivalent) setelah salah satu jenis virus dinyatakan tidak lagi beredar.
BACA JUGA:Partisipasi TKA SD 2026 Tembus 98 Persen, Kemendikdasmen Sebut Bukti Kesiapan Pendidikan
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto, menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah berbasis ilmiah yang bertujuan meningkatkan efektivitas perlindungan.
“Perubahan dari vaksin quadrivalent ke trivalent bukan pengurangan kualitas, melainkan penyesuaian berdasarkan bukti ilmiah terhadap strain yang benar-benar beredar saat ini,” ujarnya dalam diskusi bersama Kalbe Farma di Jakarta, Senin (4/5/2026).
BACA JUGA:Santunan Rp 435 Juta untuk Korban KA Bekasi, Pemerintah Tegaskan Pentingnya Jaminan Sosial
Pemantauan global yang dilakukan oleh World Health Organization melalui sistem Global Influenza Surveillance and Response System menunjukkan bahwa virus influenza B garis keturunan Yamagata sudah tidak terdeteksi secara alami sejak Maret 2020.
Menurut Sukamto, hilangnya strain Yamagata diduga sebagai dampak tidak langsung dari berbagai kebijakan penanganan pandemi COVID-19 yang berhasil memutus rantai penularan berbagai virus, termasuk influenza.
“Strain Yamagata ini sudah tidak ada selama empat tahun terakhir, sehingga vaksin disesuaikan menjadi trivalen,” jelasnya.
BACA JUGA:Sungai Meluap, Delapan Pelajar SMAN 1 Lebong Terseret Arus, Tiga Meninggal
BACA JUGA:PLN Teken PJBTL Terbesar untuk Data Center di Indonesia, Siap Pasok Listrik 511 MVA ke DayOne
Keputusan untuk menghapus komponen Yamagata dari vaksin diambil setelah melalui proses penelitian dan observasi jangka panjang. Keberadaan strain yang sudah tidak lagi beredar dinilai tidak memberikan manfaat tambahan dalam pembentukan antibodi.
Sukamto mengibaratkan penggunaan strain yang sudah punah seperti “memasang kunci untuk pintu yang sudah tidak ada”, sehingga penghapusannya dianggap sebagai langkah logis demi optimalisasi vaksin.
Ia juga menambahkan bahwa perubahan komposisi vaksin influenza bukan hal baru. Sejak pertama kali diproduksi pada 1989, formula vaksin influenza telah mengalami lebih dari 50 kali penyesuaian untuk mengikuti mutasi dan dinamika virus di alam.
BACA JUGA:Infrastruktur EV di Ibu Kota Makin Lengkap, Pemprov DKI Jakarta Apresiasi PLN
Sumber: