BACA JUGA:Viral Duda Asal Jember 'Menikahi' Pemuda Lombok, Pamer Foto Prewedding dengan Baju Adat Jawa.
Di Balik Seragam: Kerapuhan yang Tak Terdengar
Selama ini, aparat kepolisian identik dengan sosok tangguh, tegas, dan siap siaga. Namun kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa mereka juga manusia biasa yang bisa lelah, rapuh, bahkan kehilangan kendali di hadapan publik.
Sebagai anggota Sabhara, tugasnya menuntut kesiapan mental dan fisik tinggi. Patroli, pengamanan massa, hingga penanganan kriminalitas adalah rutinitas berat yang jarang diketahui tekanan psikologisnya oleh publik. Tapi apa yang terjadi bila beban itu terus dipikul tanpa ada ruang untuk berkeluh kesah?
Di institusi yang menjunjung tinggi ketegasan, mengakui kelelahan mental atau masalah pribadi kerap dianggap tabu. Stigma terhadap isu kesehatan mental di lingkungan berseragam masih kuat, membuat banyak anggota memendam beban diam-diam hingga akhirnya meledak di ruang terbuka seperti yang terekam dalam video ini.
BACA JUGA:PPG Guru Tertentu 2025 Kembali Dibuka, Cek Syarat dan Alurnya di Sini!
BACA JUGA:Tatapan Pasrah Nenek Fatimah: Diserahkan ke Griya Lansia oleh 4 Anak Kandungnya
Antara Disiplin dan Dukungan Psikologis
Penegakan disiplin dalam institusi kepolisian tentu merupakan hal penting. Tapi kasus ini seharusnya tidak hanya dipandang dari kacamata pelanggaran, melainkan juga menjadi momentum evaluasi terhadap sistem dukungan psikologis di internal kepolisian.
Pakar psikologi sosial menilai, reaksi histeris di depan umum seperti ini adalah indikator gangguan tekanan jiwa yang akut, bukan sekadar drama atau tindakan manipulatif. Jika tidak ditangani dengan pendekatan kemanusiaan, kasus serupa bisa saja terulang.
BACA JUGA:H. Rachmat Hidayat Resmi Dilantik sebagai Ketua Mabicab Pramuka Lubuk Linggau 2025–2030
Pelajaran untuk Kita Semua
Kejadian di Ternate ini mengandung banyak pesan moral. Di era digital, semua momen bisa tersebar luas dalam hitungan menit. Tapi di balik viralnya sebuah video, ada manusia yang sedang berada dalam titik terendah hidupnya.
Sebagai masyarakat, kita diajak untuk tidak hanya menghakimi, tapi juga mengembangkan empati. Setiap profesi, sekokoh apa pun terlihat dari luar, tetap menyimpan sisi rapuh yang butuh dipahami.