Posisi kelima ditempati oleh ANA dari Jepang. Mereka bekerja sama dengan Chef Yoshihiro Takahashi dari restoran berusia 400 tahun di Kyoto, Hyotei. Menu yang disajikan menampilkan bahan dan teknik tradisional Jepang. Contoh hidangan: pembuka sayuran krisan liar, omelet berbahan unik seperti umbi bunga lily atau belut laut, ikan pompano yang dimarinasi miso dan kecap serta talas goreng. Sebelum mendarat, penumpang juga dimanjakan dengan camilan tradisional Jepang seperti ikan bonito kering.
BACA JUGA:Bahlil Minta SPBU Swasta Kolaborasi dengan Pemerintah Atasi Kelangkaan BBM
BACA JUGA:Kijang Innova Masih Jadi Raja Mobil di Indonesia Terutama Reborn dan Zenix, Ini Kelebihan Zenix
Kesimpulan
Maskapai‑maskapai di atas menunjukkan bahwa soal makanan dalam penerbangan bukan lagi sekadar “apa yang tersedia”, tapi bagaimana kualitas bahan, penyajian, dan pengalaman keseluruhan bisa membuat perbedaan. Untuk penumpang, ini menjadi nilai tambah yang sangat terasa — dari pemesanan menu khusus, rasa otentik, hingga pelayanan yang memberi pengalaman kuliner meski berada di ketinggian.