Disebut di Al-Qur’an, Tanaman Ini Bikin Warga Arab Berbondong-bondong ke Indonesia

Senin 05-01-2026,11:49 WIB
Reporter : Rendi Setiawan
Editor : Rendi Setiawan

Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam buku Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013) menyebut bahwa jaringan perdagangan internasional membuat bangsa Arab mengetahui pusat tanaman kamper berada di Pulau Sumatera. Lokasinya secara spesifik berada di Fansur, yang kini dikenal sebagai Barus, wilayah Sumatera Utara.

Nama Barus berulang kali muncul dalam catatan para pedagang dan penjelajah Arab sebagai pelabuhan penting penghasil kamper berkualitas tinggi. Pedagang Arab Ibn Al-Faqih pada tahun 902 Masehi telah mencatat Fansur sebagai daerah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Ahli geografi Ibn Sa’id al-Maghribi pada abad ke-13 juga menegaskan bahwa kamper terbaik berasal dari Pulau Sumatera.

Bahkan jauh sebelum itu, ahli geografi Romawi Ptolemy pada abad ke-1 Masehi telah menyebut nama Barus dalam peta dunia kuno. Fakta-fakta ini memperkuat posisi Barus sebagai salah satu pusat perdagangan penting dunia sejak masa awal Masehi.

Sejarawan Claude Guillot dalam buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menjelaskan bahwa pedagang Arab menempuh perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu berlabuh di Pantai Barat Sumatera. Mereka menggunakan kapal besar untuk mengangkut kamper dalam jumlah besar, karena harga jualnya sangat tinggi di pasar internasional.

Kualitas kamper Barus yang unggul bahkan mengalahkan kamper dari wilayah Malaya dan Kalimantan, menjadikan Barus sebagai pelabuhan utama perdagangan kamper dunia.

BACA JUGA:Masih Diremehkan? 5 Mobil Matic Bekas Ini Terbukti Tangguh dan Awet

BACA JUGA:Kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta, Innova Seruduk Motor Gegara Sopir Mengantuk

Perdagangan yang Mengantar Islam

Kedatangan pedagang Arab ke Barus tidak semata-mata bertujuan berdagang. Seiring waktu, sebagian dari mereka menetap dan membawa serta ajaran Islam. Barus menjadi salah satu wilayah awal terjadinya proses Islamisasi di Nusantara, selain Lamri (Aceh) dan Haru.

Jejak awal Islam di Barus diduga kuat telah ada sejak abad ke-7 Masehi, dibuktikan dengan keberadaan Kompleks Makam Mahligai di Barus, yang memiliki nisan bertanggal abad ke-7 M. Hal ini memunculkan teori bahwa Islam masuk ke Indonesia lebih awal dari yang selama ini banyak diyakini, meski teori tersebut masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan.

Terlepas dari perdebatan tersebut, tidak dapat disangkal bahwa para pedagang Muslim dari Arab berhasil membangun jaringan perdagangan dan dakwah yang menghubungkan dunia Arab dengan Nusantara. Melalui perdagangan kamper inilah, Indonesia mulai dikenal luas di peta dunia sejak masa lampau.

BACA JUGA:Hilang Sejak Malam Tahun Baru, Pelajar SMP di Lubuklinggau Ditemukan Selamat

BACA JUGA:Hujan Deras Picu Banjir di Bengkulu, BPBD Siagakan Posko dan Dapur Umum

Penutup

Kisah kapur barus yang disebut dalam Al-Qur’an bukan hanya soal tanaman beraroma harum, melainkan juga pintu masuk bagi sejarah panjang perdagangan global dan penyebaran Islam di Indonesia. Dari Barus, Sumatera Utara, jejak Nusantara terhubung dengan peradaban besar dunia, membuktikan bahwa Indonesia telah memainkan peran penting sejak ribuan tahun silam.

BACA JUGA:Jalan Masjid Rusak Bertahun-tahun, Warga Perum PNS Gandus Palembang Patungan Lakukan Pengecoran

Kategori :