SILAMPARITV.CO.ID - Kebiasaan menunda pekerjaan kerap dianggap sebagai tanda kurangnya disiplin atau kemalasan. Namun, pandangan tersebut dinilai terlalu menyederhanakan persoalan. Sejumlah ahli psikologi menilai prokrastinasi lebih berkaitan dengan respons emosional dibandingkan sikap enggan bekerja.
BACA JUGA:Anak Tak Sering Curhat Bukan Tak Sayang, Psikologi Ungkap Alasannya
Dikutip dari Paste Magazine, profesor psikologi Joseph Ferrari, Ph.D., yang dikenal luas lewat risetnya tentang prokrastinasi, menjelaskan bahwa perilaku menunda sering kali muncul sebagai bentuk perlindungan diri dari perasaan tidak nyaman. Tugas yang dianggap berat, menakutkan, atau berisiko gagal dapat memicu reaksi penghindaran dalam otak.
BACA JUGA:Masjid At-Taubah Lapas Narkotika Muara Beliti Raih Sertifikat Arah Kiblat dari Kemenag Musi Rawas
Menurut Ferrari, salah satu pemicu utama prokrastinasi adalah rasa takut akan kegagalan dan penilaian negatif dari orang lain. Alih-alih menghadapi kemungkinan hasil yang mengecewakan, seseorang memilih menunda dan mengalihkan perhatian ke aktivitas lain yang terasa lebih aman atau menyenangkan. Pola ini dikenal sebagai self-handicapping, yaitu upaya tidak sadar untuk menghindari tekanan emosional.
BACA JUGA:Tingkatkan Kapasitas Aparatur, Lapas Narkotika Muara Beliti Ikuti Sosialisasi Penerapan KUHP
Keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri juga memainkan peran besar. Individu yang memiliki pandangan negatif tentang kemampuan diri cenderung lebih sering menunda tugas yang menantang. Pikiran seperti merasa tidak cukup kompeten atau yakin akan gagal dapat memperkuat kebiasaan menunda sebagai bentuk penghindaran emosi.
Ferrari menekankan bahwa prokrastinasi seharusnya dipahami sebagai persoalan pengelolaan emosi, bukan semata masalah manajemen waktu. Stres, kecemasan, dan tekanan batin yang muncul saat memikirkan tugas tertentu sering menjadi pemicu utama perilaku tersebut.
BACA JUGA:Jelang Ramadan, Harga Sejumlah Bahan Pokok Masih Rawan Naik
BACA JUGA:Pemerintah Perluas CKG, Pengobatan Gratis Resmi Diterapkan Tahun Ini
Untuk mengurangi kebiasaan menunda, psikolog menyarankan pendekatan yang berfokus pada kesadaran emosi dan pola pikir. Metode seperti cognitive-behavioral therapy (CBT) dinilai efektif untuk membantu individu mengenali keyakinan negatif dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih realistis.
BACA JUGA: Durasi Main Aplikasi Kian Menggila, Warga Dunia Habiskan Ratusan Jam Setahun di HP
Selain itu, langkah sederhana seperti mengidentifikasi perasaan yang muncul sebelum menunda, memahami pikiran yang mendasarinya, serta membagi tugas besar menjadi langkah kecil dapat membantu mengurangi kecenderungan prokrastinasi. Dengan pendekatan ini, menunda pekerjaan dipahami sebagai respons psikologis yang bisa dikelola, bukan sekadar kebiasaan buruk.