Gaya Hidup Viral di Media Sosial dan Tekanan Tak Terlihat bagi Generasi Muda

Selasa 10-02-2026,10:09 WIB
Reporter : Rendi Setiawan
Editor : Rendi Setiawan

SILAMPARITV.CO.ID - Media sosial saat ini telah bertransformasi jauh melampaui fungsi awalnya sebagai ruang berbagi aktivitas sehari-hari. Platform digital kini menjadi panggung utama untuk memamerkan citra “kehidupan ideal”, mulai dari pilihan busana, produk perawatan diri, hingga cara menikmati waktu luang. Fenomena ini perlahan membentuk standar hidup baru yang kerap diikuti tanpa disadari, terutama oleh generasi muda yang masih dalam proses pencarian jati diri.

Sosiolog Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, M.Sos, menilai kondisi tersebut sebagai tantangan serius dalam kehidupan sosial modern. Menurutnya, derasnya arus konten di media sosial membuat banyak individu kesulitan memilah antara kebutuhan nyata dan sekadar keinginan yang dibentuk oleh tren digital.

BACA JUGA:Silampari Fun Run 2026 Sukses Digelar Peringati Hari Jadi Linggau Pos Ke-25

BACA JUGA:Peringati Hari Pers Nasional, Pemkot Lubuk Linggau Gelar Coffee Morning dan Dialog Bersama Insan Pers

“Standar TikTok” dan ilusi kehidupan sempurna

Sry menjelaskan bahwa platform berbasis video singkat telah melahirkan apa yang ia sebut sebagai “standar TikTok”. Standar ini kerap dilekatkan pada kepemilikan barang mahal, penampilan fisik tertentu, serta gaya hidup yang tampak glamor.

“Tantangan generasi yang intens mengonsumsi media sosial adalah munculnya standar TikTok, yang biasanya berkaitan dengan harga outfit, skincare, dan berbagai simbol gaya hidup lainnya,” ujar Sry dalam wawancara dengan Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Ia menegaskan bahwa gambaran tersebut sering kali tidak merepresentasikan realitas sebagian besar masyarakat. Konten yang beredar umumnya telah melalui proses seleksi, pengeditan, bahkan hanya menampilkan potongan kecil dari kehidupan seseorang yang tampak sempurna di layar.

BACA JUGA:Warga Lubuklinggau Temukan Pria Paruh Baya Meninggal di Rumah Kontrakan

BACA JUGA:BPJS Kesehatan PBI Tiba-Tiba Nonaktif? Begini Prosedur Reaktivasi Mandiri yang Praktis dan Cepat Aktif

Penjajahan gaya hidup di era digital

Lebih lanjut, Sry memandang fenomena ini sebagai bentuk penjajahan gaya hidup modern. Bukan melalui kekuatan militer, melainkan lewat penetrasi budaya populer yang perlahan membentuk cara berpikir dan pola konsumsi masyarakat.

“Ini bisa disebut penjajahan masa kini. Bukan dengan senjata, tetapi lewat gaya hidup yang membuat banyak orang terjebak, kehilangan arah, dan terus merasa kurang,” ungkapnya.

Menurut Sry, kondisi tersebut memicu budaya serba instan, pencarian kesenangan sesaat, serta praktik pamer atau flexing yang semakin marak di ruang digital.

BACA JUGA:Kalapas Narkotika Muara Beliti Beri Penguatan Tugas dan Motivasi Pegawai Saat Apel Pagi

Kategori :