SILAMPARITV.CO.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lampung Barat kembali menjadi perhatian publik setelah menu daging sapi yang disajikan menuai keluhan dari para penerima manfaat. Daging tersebut disebut memiliki tekstur sangat keras, bahkan diibaratkan seperti karet karena sulit dikunyah.
BACA JUGA:Aksi Cepat Polisi, Sepasang Pengedar Narkoba Ditangkap di Lubuk Linggau
BACA JUGA:Terkuak! Kasus Penggelapan Rp. 4,7 Miliar yang Disuarakan Neni Putri
Keluhan ini mencuat setelah beredarnya sebuah video berdurasi singkat yang memperlihatkan seorang penerima manfaat kesulitan saat mencoba mengonsumsi daging tersebut. Dalam rekaman itu, terdengar komentar yang menyayangkan kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.
BACA JUGA:IRT di Palembang Ditangkap Jadi Pengedar Sabu, Polisi Sita 2,12 Gram Barang Bukti
BACA JUGA:Disiplin Jadi Prioritas, Satops Patnal Lapas Narkotika Muara Beliti Lakukan Inspeksi Atribut Pegawai
Menu tersebut diketahui dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tugu Sari 2 pada Jumat, 17 April 2026. Tidak hanya di satu lokasi, sejumlah sekolah lain juga dilaporkan mengalami hal serupa. Pihak sekolah pun mengakui bahwa menu hari itu memang berupa daging sapi dengan tekstur yang kurang empuk.
BACA JUGA:Branch Office BRI Lubuklinggau Mengucapkan Turut Berduka Cita
BACA JUGA:Bank Sumsel BabeL Cabang Lubuklinggau Mengucapkan Turut Berduka Cita
Kepala SPPG Tugu Sari 2, Dedi Suhendra, membenarkan bahwa menu yang disajikan adalah daging sapi. Namun, terkait keluhan yang muncul, pihaknya belum memberikan penjelasan rinci dan menyatakan akan melakukan evaluasi internal sebelum menyampaikan keterangan lebih lanjut.
BACA JUGA:Mulai Rp. 1 Jutaan! Ini 6 HP Realme dengan Kamera Canggih dan RAM Besar
BACA JUGA:Terobosan China: Material Aerogel Tahan 1.300°C Tingkatkan Keamanan Baterai Mobil Listrik
Sorotan juga datang dari aktivis Germasi, Wahdi Syarif. Ia menilai peristiwa ini mencerminkan lemahnya standar pengolahan makanan dalam program tersebut. Menurutnya, kualitas masakan yang tidak layak seperti ini dapat mengindikasikan kurangnya kompetensi tenaga dapur yang terlibat.
BACA JUGA:Terobosan China: Material Aerogel Tahan 1.300°C Tingkatkan Keamanan Baterai Mobil Listrik
BACA JUGA:Veda Ega Pratama Tunjukkan Aksi Berani Jelang Moto3 Spanyol 2026
Ia bahkan menduga adanya ketidaksesuaian dalam proses perekrutan juru masak, termasuk kemungkinan sertifikasi yang tidak memenuhi standar. Wahdi menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti persoalan ini dengan mendorong evaluasi menyeluruh kepada pihak terkait.
BACA JUGA:Upaya Penyelundupan Sabu Digagalkan, Polisi Amankan Kurir di Lubuk Linggau
BACA JUGA:6 HP Baru Ramaikan Pasar Indonesia Awal April 2026, Poco X8 Pro Tawarkan Performa dan Desain Premium
Menurutnya, program berskala besar seperti MBG seharusnya dijalankan dengan pengawasan ketat, terutama karena menyangkut konsumsi masyarakat, khususnya anak-anak. Ia juga mengingatkan bahwa kualitas makanan tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga keamanan dan kelayakan untuk dikonsumsi.
BACA JUGA:Sabar/Reza Siap Debut di Piala Thomas 2026, Targetkan Sumbang Poin untuk Indonesia
BACA JUGA:Harga BBM Non-Subsidi Naik Tajam per 18 April, Pertamax Turbo Tembus Rp19.400 per Liter
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya menjaga standar mutu dalam setiap pelaksanaan program pemerintah, agar manfaat yang diharapkan benar-benar dirasakan oleh masyarakat tanpa menimbulkan masalah baru.
BACA JUGA:Setahun Terabaikan, Jalan Longsor di Muara Beliti Akhirnya Ditangani Pemerintah
BACA JUGA:Kamera Saku Andalan Kreator: DJI Osmo Pocket 4 Hadir di Indonesia dengan Fitur Lebih Canggih