Wacana Penutupan Prodi Tak Relevan Tuai Respons PTN, Transformasi Dinilai Lebih Tepat

Wacana Penutupan Prodi Tak Relevan Tuai Respons PTN, Transformasi Dinilai Lebih Tepat

Wacana Penutupan Prodi Tak Relevan Tuai Respons PTN, Transformasi Dinilai Lebih Tepat--Net

SILAMPARITV.CO.ID - Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan masa depan menuai beragam tanggapan dari pimpinan perguruan tinggi negeri (PTN). Sejumlah akademisi menilai kebijakan ini perlu dilakukan secara hati-hati dan berbasis kajian mendalam.

BACA JUGA:Kronologi Tabrakan KRL vs KA Argo Bromo Anggrek yang Gegerkan Bekasi Timur

BACA JUGA:Poco C81 Pro Meluncur Global, Baterai Lebih Besar dan Storage Hingga 256 GB

Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, menyatakan bahwa relevansi program studi memang penting, namun penutupan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Menurutnya, pendekatan yang lebih tepat adalah melakukan transformasi dan integrasi keilmuan agar tetap mampu menjawab tantangan zaman.

“Di tengah perubahan yang semakin kompleks, pendekatan monodisiplin kerap tidak lagi memadai. Ke depan, dibutuhkan kolaborasi multi-, inter-, hingga transdisiplin agar pendidikan tinggi tetap adaptif dan berdampak,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

BACA JUGA:Kasus Daycare DIY Jadi Sorotan, Puluhan Persen Tempat Penitipan Anak Belum Berizin

BACA JUGA:Gibran Soroti Keamanan Pangan MBG, Dorong Percepatan Program hingga Wilayah 3T

Ia menambahkan, transformasi atau konsolidasi program studi perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan masa depan, hingga tingkat serapan lulusan di dunia kerja. Selain itu, capaian akademik, diferensiasi program, serta dukungan sumber daya juga menjadi faktor penting.

BACA JUGA:Aksi Jambret di Musi Rawas Berakhir Penangkapan, Satu Pelaku Dilumpuhkan Polisi

BACA JUGA:Teknologi Walking Rig Percepat Pengeboran Sumur Migas di PALI, Tuntas 38 Hari

Menurutnya, hak mahasiswa untuk belajar sesuai minat tetap harus dijaga. “Kuncinya bukan mempertentangkan minat dan relevansi, tetapi mengintegrasikan keduanya,” tegasnya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Ifan Iskandar. Ia menilai penutupan prodi bukan hal yang tabu, namun harus didasarkan pada kajian yang kuat dan dilakukan secara selektif.

BACA JUGA:Heboh! Dua Terduga Culik Anak Ditangkap Warga di Rejang Lebong, Satu Tewas 

BACA JUGA:Kasus Dugaan Kekerasan di Daycare Jogja, Psikiater Ingatkan Pentingnya Keamanan Emosional Anak

Sumber: