Anggota DPR Belanda Diminta Ganti Baju Usai Kenakan Blus Bendera Palestina

Anggota DPR Belanda Diminta Ganti Baju Usai Kenakan Blus Bendera Palestina

Anggota DPR Belanda Diminta Ganti Baju Usai Kenakan Blus Bendera Palestina--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Sidang parlemen Belanda diwarnai ketegangan ketika Ester Ouwehand, anggota DPR sekaligus pemimpin Partai Perlindungan Hewan (PvdD), diminta mengganti pakaiannya karena mengenakan blus bermotif bendera Palestina.

Insiden itu terjadi pada 20 September 2025 saat debat mengenai anggaran nasional di Den Haag.

BACA JUGA:Jadwal Voli Oktober 2025: Final Four Livoli Divisi Utama, Timnas Main di Asian Youth Games, Megawati & Farhan

BACA JUGA:Tujuh Pebulutangkis Indonesia Dikabarkan Terlibat Pengaturan Skor, Tiga Atlet Top Ikut Terseret

Blus Bendera Palestina Picu Perdebatan

Ketua DPR Belanda, Martin Bosma, menyatakan keberatan atas pakaian yang dikenakan Ouwehand. Menurut Bosma, simbol politik dalam sidang parlemen tidak sesuai dengan prinsip netralitas.

"Saya merasa keberatan Anda sekarang berdiri di sini dengan bendera ini," tegas Bosma di hadapan forum.

Ouwehand sempat menolak dengan alasan aturan tata tertib tidak melarang penggunaan pakaian berwarna merah, putih, hijau, dan hitam.

"Saya membaca aturan tata tertib dan saya tidak melihat di mana pun yang mengatakan Anda tidak boleh berpidato hari ini dengan mengenakan blus berwarna merah, hijau, putih, dan hitam," bantahnya.

BACA JUGA:Heboh Warga Uganda Tinggalkan Rumah Demi Sambut Hari Kiamat

BACA JUGA:Ajang PLN Journalist Awards 2025 Dibuka, Apresiasi untuk Pewarta Penggerak Literasi Energi Nasional

Solidaritas untuk Palestina

Dalam pernyataannya, Ouwehand menegaskan bahwa pilihannya mengenakan blus tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina, khususnya warga Gaza yang terus mengalami penderitaan akibat konflik berkepanjangan.

"Kita berdiri di sini dalam solidaritas dengan Palestina. Tetapi yang terpenting adalah bahwa segala sesuatu yang tidak berdaya, dan bahwa kita hanya dapat bergerak maju jika kita berani menempatkan mereka yang paling rentan di pusat," ujar Ouwehand.

Sumber:

Berita Terkait