Viral Detik-Detik Polisi Menangis Histeris Saat Dijemput Propam

Viral Detik-Detik Polisi Menangis Histeris Saat Dijemput Propam

Viral Detik-Detik Polisi Menangis Histeris Saat Dijemput Propam--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Sebuah video amatir yang merekam momen dramatis di Ternate, Maluku Utara, mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman yang tersebar luas itu, terlihat seorang anggota polisi menangis histeris ketika dijemput paksa oleh tim Profesi dan Pengamanan (Propam). Jeritan pilu sang anggota “Tolong, saya tara mau dijemput!” mengguncang emosi publik dan memantik perdebatan tentang tekanan psikologis yang dialami aparat kepolisian.

Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran disiplin biasa, melainkan membuka tabir sisi manusiawi seorang penegak hukum yang jarang terlihat publik.

BACA JUGA:5 Waktu Mustajab Membaca Ayat Seribu Dinar: Doa Dimudahkan Rezeki

BACA JUGA:7 Aplikasi Kamera HP Terbaik yang Bisa Hasilkan Foto Setara DSLR

Momen Viral yang Menggemparkan Publik

Dalam video berdurasi kurang dari dua menit tersebut, pria berseragam polisi itu terlihat duduk di jalan, menangis keras sambil menolak untuk dibawa oleh petugas Propam. Kejadian itu terjadi di kawasan Ternate Utara, dan sontak mengundang perhatian warga sekitar yang ikut menyaksikan dan merekam.

Situasi itu berkembang menjadi tontonan emosional. Publik dibuat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada sosok berseragam yang selama ini identik dengan ketegasan dan wibawa?

BACA JUGA:Lulusan S3 Oxford Banting Setir Jadi Ojol, Akui Cari Kerja Kini Makin Sulit.

BACA JUGA:Duduk Sendiri di Kelas, Rohmat Satu-satunya Siswa Baru SDN 1 Kendalrejo Tahun Ajaran 2025/2026.

Latar Belakang Penjemputan

Dikonfirmasi oleh pihak kepolisian, oknum dalam video tersebut merupakan anggota Satuan Sabhara Polda Maluku Utara. Ia dijemput paksa oleh Propam karena diduga melakukan pelanggaran disiplin berat, salah satunya adalah sering tidak masuk dinas tanpa keterangan.

Kapolres Ternate, AKBP Anita Ratna Yulianto, menegaskan bahwa anggota tersebut bukan bagian dari Polres Ternate, melainkan di bawah wilayah Polda Maluku Utara.

“Itu bukan anggota Polres Ternate, namun itu anggota Polda,” jelas Kapolres Anita, mengklarifikasi yurisdiksi yang menangani kasus tersebut.

Namun, lebih dari sekadar urusan internal institusi, apa yang terjadi justru menggugah sisi emosional masyarakat. Reaksi histeris sang anggota mengindikasikan bahwa ada tekanan mental yang tidak bisa lagi ia bendung.

Sumber:

Berita Terkait