Kondisi ini menunjukkan bagaimana BlackBerry tak mampu bersaing dengan dominasi Android dan iOS. Meski demikian, hal tersebut tak menyurutkan niat Gen Z yang tetap tertarik menggunakannya untuk komunikasi dasar atau bahkan sekadar fashion statement.
BACA JUGA:Peroleh Akses Pembiayaan BRI, UMKM Penyuplai Makan Bergizi Gratis Sukses Tingkatkan Kapasitas Dapur
BACA JUGA:TOP! PLN Kembali Pertahankan Posisi Puncak Sektor Utilitas Fortune Southeast Asia 500
Kesimpulan
Kembalinya BlackBerry menjadi simbol tren baru Gen Z: nostalgia, kesadaran digital, dan perlawanan terhadap hiper-konektivitas. Di balik layar ponsel QWERTY yang dulu dianggap kuno, kini ada pesan mendalam: saatnya hidup lebih lambat dan sadar.
BACA JUGA:Pasar Semrawut dan Rawan Pungli, Pemkot Lubuklinggau Siapkan Transformasi UPT Jadi PD Pasar.