Sayangnya, meski punya CV akademik yang mengesankan, nasib berkata lain. Ding kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Setelah mengirim puluhan lamaran kerja dan menghadiri lebih dari 10 wawancara, ia gagal memperoleh posisi yang sesuai.
“Ini pekerjaan yang stabil. Saya bisa menghidupi keluarga dengan penghasilan ini. Jika kita bekerja keras, kita bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Ini bukan pekerjaan yang buruk,” ujar Ding, yang kini berusia 39 tahun.
Saat masih di Singapura, ia bekerja sebagai ojol dan memperoleh penghasilan sekitar SGD700 per minggu atau sekitar Rp8,8 juta, dengan jam kerja 10 jam per hari.
Olahraga & Ojol: Kombinasi Menyenangkan
Ding mengaku menyukai olahraga, sehingga pekerjaan sebagai pengantar makanan justru memberikan manfaat tambahan.
“Salah satu keuntungan mengantar makanan adalah kita bisa berolahraga sekaligus,” ungkapnya.
Ia menolak menjadi guru les privat karena merasa tidak nyaman untuk aktif mencari pelanggan. Setelah kembali ke China, ia kini bekerja sebagai ojol untuk Meituan, salah satu platform pengantaran makanan terbesar di Tiongkok.
Realita Pasar Kerja: Pendidikan Tinggi Tak Selalu Jadi Jaminan
Kisah Ding menjadi cerminan nyata bahwa gelar tinggi tidak selalu menjamin masa depan cerah, apalagi di tengah persaingan kerja yang semakin padat dan cepat berubah. Banyak warganet menyoroti kisahnya sebagai bentuk kerendahan hati dan daya juang
Meski “banting setir” dari jalur akademik ke profesi ojol, Ding justru memancarkan optimisme dan makna kerja keras, tanpa malu menjalani profesi yang dianggap “tidak sesuai” dengan latar belakang pendidikannya.