BACA JUGA:5 Cara Mencegah Penyakit Jantung Sejak Dini agar Tetap Sehat dan Panjang Umur
Struktur dan Kandungan Komet
Citra dari Teleskop Luar Angkasa Hubble menunjukkan bahwa 3I/ATLAS memiliki lebar sekitar 5,6 kilometer, dengan koma samar dan ekor debu yang khas seperti komet pada umumnya.
Sementara Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) mendeteksi bahwa komet ini memiliki kandungan karbon dioksida yang tinggi, namun aktivitas es airnya relatif rendah menunjukkan perbedaan kecil dengan komet-komet lain yang lebih aktif.
BACA JUGA:10 Negara Teraman dan Paling Tidak Aman di Dunia 2025, Singapura Jadi yang Teratas!
BACA JUGA:Puma PHK 900 Karyawan: Saham Anjlok 50%, CEO Baru Ambil Langkah Drastis untuk Selamatkan Merek
Ilmuwan Tetap Waspada
Meskipun banyak ilmuwan meyakinkan publik bahwa 3I/ATLAS hanyalah komet biasa, beberapa pakar tetap menganggap objek ini layak mendapat perhatian serius.
Ahli astrofisika Harvard, Avi Loeb, dalam tulisannya di Medium menyebutkan bahwa sifat dan lintasan komet ini “unik” dan pantas dikaji lebih dalam — meskipun ia menegaskan bahwa kemungkinan besar ATLAS tetaplah benda alami.
Di sisi lain, Tom Statler, ilmuwan senior Divisi Ilmu Planet NASA, menyatakan bahwa semua bukti sejauh ini mengarah pada kesimpulan yang sama:
“Benda itu tampak seperti komet, bergerak seperti komet, dan berperilaku seperti komet. Tidak ada indikasi bahwa ini sesuatu yang buatan,” tegasnya kepada The Guardian.
BACA JUGA:Tsunami 100 Meter Hantam Ambon, Kesaksian Warga Tahun 1674: “Langit Gelap, Laut Menelan Daratan
BACA JUGA:Petisi Tolak TKA Tembus 200 Ribu Tanda Tangan, Mendikdasmen: ‘The Show Must Go On’
Simbol Kesiapsiagaan Global
Bagi komunitas astronomi internasional, pemantauan terhadap komet 3I/ATLAS menjadi latihan berharga dalam menghadapi potensi ancaman benda langit di masa depan.
Melalui kolaborasi antara lembaga seperti NASA, ESA, IAWN, dan observatorium di seluruh dunia, manusia menunjukkan bahwa kerja sama lintas negara penting untuk menjaga keselamatan planet Bumi.