Mengapa Gulai Bersantan Begitu Melekat di Sumatera? Ini Penjelasan Sejarahnya

Mengapa Gulai Bersantan Begitu Melekat di Sumatera? Ini Penjelasan Sejarahnya

Mengapa Gulai Bersantan Begitu Melekat di Sumatera? Ini Penjelasan Sejarahnya--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Masakan bersantan, khususnya gulai, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner masyarakat Pulau Sumatera. Di berbagai daerah seperti Sumatera Barat, Aceh, Jambi, Lampung, hingga Sumatera Utara, gulai bukan sekadar lauk pendamping nasi, melainkan simbol identitas, tradisi, dan nilai sosial yang diwariskan lintas generasi.

Kecintaan masyarakat Sumatera terhadap gulai bersantan tidak hadir secara tiba-tiba. Ada jejak sejarah panjang yang membentuk kebiasaan ini, mulai dari kondisi alam hingga pengaruh interaksi budaya lintas bangsa.

BACA JUGA:PS5 Bersiap Hadirkan 40 Lebih Game di 2026, Remake Ikonik dan Marvel Jadi Sorotan

BACA JUGA:Kepala Puskesmas Sidorejo Bantah Isu Nepotisme, Sebut Nakes Silvia Langgar Kontrak

Kelimpahan Bahan Baku Lokal

Faktor utama yang mendorong berkembangnya masakan bersantan di Sumatera adalah ketersediaan bahan baku lokal, terutama kelapa. Pulau Sumatera berada di wilayah tropis yang subur, sehingga pohon kelapa tumbuh melimpah sejak ratusan tahun lalu.

Kelapa tua yang diolah menjadi santan kental menghasilkan cita rasa gurih dan tekstur kaya. Santan kemudian menjadi elemen utama dalam berbagai masakan tradisional seperti gulai dan rendang. Studi kuliner Minangkabau yang dimuat dalam publikasi budaya oleh Springer menyebutkan bahwa santan berfungsi sebagai sumber rasa utama yang menyatukan rempah-rempah dan memberikan karakter kuat pada masakan Sumatera.

BACA JUGA:Respon Cepat IKM dan Dinsos Pulangkan Warga Agam ke Kampung Halaman

BACA JUGA:Komitmen Zero Narkoba, Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti Laksanakan Tes Urine bagi Pegawai dan Tamping

Pengaruh Perdagangan dan Akulturasi Budaya

Selain faktor alam, sejarah perdagangan juga turut membentuk tradisi kuliner bersantan. Sejak abad ke-7, wilayah pesisir Sumatera menjadi jalur strategis perdagangan internasional. Pedagang dari India, Arab, dan Asia Tenggara membawa teknik memasak berkuah dan kaya rempah yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal.

Teknik tersebut berpadu dengan santan kelapa, menciptakan gulai khas Sumatera yang berempah, gurih, dan mengenyangkan. Hidangan ini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat agraris dan pesisir yang memerlukan asupan energi tinggi untuk aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA:Viral! Nakes Lubuklinggau Mengaku Diberhentikan Sepihak oleh Puskesmas

BACA JUGA:Perkuat Keimanan, Warga Binaan Kristiani Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti Laksanakan Ibadah Rohani

Sumber: