Namun, tidak semua lansia berpandangan sama. Welas (96), warga Solo, justru menyambut baik rencana MBG tersebut meski mengaku belum pernah menerima bantuan sosial.
“Kalau dikasih ya sangat bersyukur, asal tidak bayar. Soal keracunan, semua itu sudah kehendak Tuhan,” ujarnya polos.
BACA JUGA:Robot Gaban, Ikon Budaya Pop yang Melahirkan Istilah Segede Gaban
BACA JUGA:Hilang dari Layar Kaca, Film Doraemon Ini Masih Hadir di Netflix
Pemerintah Masih Siapkan Regulasi
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebut program MBG lansia akan menyasar lebih dari 100 ribu lansia berusia di atas 75 tahun dan sekitar 36 ribu penyandang disabilitas pada 2026, dengan total anggaran sekitar Rp1,18 triliun per tahun.
Setiap porsi MBG lansia direncanakan bernilai Rp15.000 dan diberikan dua kali sehari. Penyediaan makanan akan dilakukan oleh kelompok masyarakat (pokmas) di sekitar lokasi penerima manfaat, serta didukung oleh caregiver yang saat ini masih dalam tahap pelatihan.
Program ini disebut sebagai pengembangan dari Program Permakanan yang sebelumnya telah dijalankan Kemensos.
Namun di sejumlah daerah, termasuk Semarang dan Solo, pemerintah daerah mengaku belum menerima juknis resmi terkait pelaksanaan MBG lansia. Saat ini, prioritas MBG masih difokuskan pada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
BACA JUGA:Nama Timothy Ronald Muncul dalam Laporan Dugaan Penipuan Kripto, Polisi Bergerak
BACA JUGA:Lengkap! Cara Skrining BPJS Kesehatan 2026 via HP untuk Hindari Kendala Berobat
Pakar Ingatkan Risiko Gizi dan Kesehatan
Para ahli gizi menegaskan bahwa lansia termasuk kelompok rawan gizi. Guru Besar Pangan dan Gizi IPB, Ali Khomsan, menyebut menu untuk lansia harus rendah gula, garam, lemak, dan kolesterol, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit degeneratif.
Sementara itu, ahli gizi masyarakat dr. Tan Shot Yen mengingatkan bahwa banyak lansia sebenarnya memiliki masalah kesehatan, meski merasa dirinya sehat karena belum pernah diperiksa.
Kajian CISDI juga menemukan bahwa sebagian besar menu MBG belum memenuhi standar kecukupan gizi seimbang dan cenderung homogen, sehingga berisiko jika diterapkan pada lansia.
BACA JUGA:Bukan Sekadar Pembangkit Listrik Hijau, PLTA Sipansihaporas Cegah Banjir Kayu saat Bencana Sumatra