Tak Ada Banjir Buah, Musim Buah Lokal Sumsel Tergerus Cuaca Ekstrem

Sabtu 17-01-2026,11:17 WIB
Reporter : Rendi Setiawan
Editor : Rendi Setiawan

BACA JUGA:Truk Muatan Kerupuk Senggol Gapura di Lubuklinggau, Sopir Diminta Bayar Rp. 40 Juta

Situasi serupa juga dirasakan masyarakat Semende, Kabupaten Muara Enim, yang dikenal sebagai sentra durian. Muhammad Ihsan (34), warga Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah, mengatakan ratusan pohon durian tidak berbuah. “Hanya beberapa pohon saja yang berbuah, itu pun jarang,” katanya, Kamis (8/1/2026).

Erfan (24), warga Desa Palak Tanah, menyebut hampir tidak ada durian lokal Semende tahun ini. Durian yang beredar di pasar didatangkan dari wilayah Kikim, Kabupaten Lahat. “Rasanya kurang, banyak air,” ujarnya.

Di wilayah hilir, kondisi tak jauh berbeda. Budi (50), warga Sirah Pulau Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), mengatakan duku Komering yang terkenal manis nyaris tidak berbuah. “Kebun kami gagal panen, hanya rambutan yang masih ada,” katanya.

BACA JUGA:Sopir Truk Kerupuk Hadapi Beban Berat, Aliansi Solidaritas Buka Donasi Kemanusiaan

BACA JUGA:Terdesak Ekonomi, Pemuda Gondrong Edarkan Sabu Antar Kecamatan di Lubuklinggau

Tradisi Kebun Buah dan Penjaga Keanekaragaman Hayati

Di Sumatera Selatan, masyarakat memiliki tradisi panjang dalam mengelola kebun buah. Selain jongot pada Suku Musi, terdapat ghepangan di Suku Semende, kampungan di wilayah Enim, benuaran di Kabupaten Empat Lawang, serta kebun risan di OKI. Mayoritas kebun tersebut ditanami buah-buahan lokal dan berada di sekitar lahan pertanian atau berbatasan dengan hutan.

Di Tempirai, banyak pemilik jongot membangun pondok dan menetap sementara di kebun. “Tinggal di jongot lebih tenang dan sejuk. Tapi tetap pulang ke dusun beberapa kali sebulan,” tutur Toni.

Keberadaan kebun buah tradisional ini berperan penting dalam menjaga kekayaan buah asli Indonesia. Ainur Rofik, kandidat doktor politik lingkungan di UIN Raden Fatah Palembang, menyebut kebun masyarakat menjadi benteng terakhir pelestarian buah lokal yang kini sulit ditemui di perkotaan.

BACA JUGA:Lapas Narkotika Kelas IIA Muara Beliti Hadiri Acara Pisah Sambut Kepala Kejaksaan Negeri Musi Rawas

BACA JUGA:BSI Lubuklinggau Gelar Priority Gathering Golden Step Into The Future, Perkenalkan Tabungan Emas

“Secara tidak langsung, masyarakat telah menjaga dan melestarikan keanekaragaman buah asli Indonesia,” ujar Rofik.

Merujuk artikel Review: Keanekaragaman Jenis Buah-Buahan Asli Indonesia dan Potensinya (Biodiversitas Vol. 8 No. 2 Tahun 2007), Asia Tenggara memiliki sekitar 400 jenis buah konsumsi, dan lebih dari 75 persennya ditemukan di Indonesia. Tercatat 266 jenis buah asli Indonesia, sebagian besar tumbuh liar di hutan dan hanya sebagian kecil dibudidayakan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 62 jenis telah dibudidayakan, 18 di antaranya merupakan endemik, serta 4 jenis tergolong langka, yakni kerantungan (Durio oxleyanus), lahong (Durio dulcis), lai (Durio kutejensis), dan burahol (Stelechocarpus burahol).

BACA JUGA:Insiden Tengah Malam, Dua Truk Bertabrakan di Muara Beliti Musi Rawas

Kategori :