Pertama, pengelolaan Dana Alokasi Umum (DAU) kelurahan dinilai tidak transparan serta tidak melibatkan perangkat RT dalam prosesnya. Kedua, sebanyak 12 dari 13 Ketua RT disebut diberhentikan secara sepihak oleh lurah dan digantikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) tanpa musyawarah bersama warga.
BACA JUGA:Mantan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin Wafat, Sempat Dirawat Intensif di Jakarta
BACA JUGA:7 Cara Efektif Bangunkan Sahur Tanpa Ribut, Dijamin Lebih Tenang dan Hangat
“Kami sudah berkali-kali menyuarakan aspirasi agar Lurah Pasar Muara Beliti dinonaktifkan, tetapi tidak pernah ada tanggapan serius dari Pemkab,” ujar Tommy.
BACA JUGA:Febrian Saputra Resmi Jabat Kadiskominfotiksan Musi Rawas, Delapan Pejabat Eselon II Dilantik
BACA JUGA:Suami Gerebek Istri di Lubuklinggau, Kasus Berakhir Damai
Ia menambahkan, aksi yang dilakukan sejak jilid pertama hingga keempat hanya direspons dengan audiensi yang dipimpin Sekda Musi Rawas, tanpa keputusan tegas. Menurut warga, hasil pertemuan tersebut tidak pernah memberikan solusi nyata.
BACA JUGA:Penyegaran Birokrasi, Pemkab Musi Rawas Kukuhkan 8 Pejabat Baru
BACA JUGA:Ingin Turun Berat Badan Saat Ramadan? Coba 10 Menu Diet Sehat Ini untuk Sahur dan Berbuka
Tommy mengaku telah berulang kali mengimbau massa untuk menahan diri, terlebih karena aksi berlangsung di bulan suci Ramadan. Namun, rasa frustrasi yang memuncak membuat sebagian warga tak lagi mampu mengendalikan emosi.
BACA JUGA:Bangun Kekompakan dan Profesionalisme, Lapas Narkotika Muara Beliti Adakan Rapat Dinas Rutin
BACA JUGA:Semangat Ramadan, Lapas Narkotika Muara Beliti Gelar Pesantren Kilat bagi Warga Binaan
“Kami sebenarnya tidak ingin terjadi kerusakan. Tapi karena tuntutan terus diabaikan, kekecewaan masyarakat memuncak,” katanya.
BACA JUGA:Suami Gerebek Istri di Kamar Kos Saat Sahur, Video Penggerebekan Viral di Lubuklinggau
BACA JUGA:Aksi Curas di Rejang Lebong, Korban Mahasiswi Asal Musi Rawas
Usai terjadi perusakan, aparat kepolisian yang berada di lokasi segera mengambil langkah pengamanan dan berupaya menenangkan massa. Setelah situasi berhasil dikendalikan, warga membubarkan diri secara bertahap.