Matcha dan Mitos Kulit Glowing: Ini Penjelasan Ilmiah dari Pakar
Matcha dan Mitos Kulit Glowing: Ini Penjelasan Ilmiah dari Pakar--foto: ist
SILAMPARITV.CO.ID - Tren konsumsi matcha semakin menjamur di dunia kuliner dan gaya hidup sehat. Minuman berbahan dasar teh hijau bubuk ini kerap diklaim mampu membuat kulit lebih cerah dan glowing. Berbagai unggahan di media sosial menyebut matcha memiliki efek anti-aging, membantu mencegah jerawat, hingga meningkatkan kelembapan kulit.
BACA JUGA:Pemkot Lubuklinggau Bangun Peluang Kerja Sama dengan BSI, Fokus Tingkatkan Layanan Kesehatan
BACA JUGA:Tebar Kebaikan Ramadan, Polisi dan OKP di Lubuklinggau Bagikan Ratusan Takjil
Namun, benarkah klaim tersebut sepenuhnya tepat?
Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi Pangan IPB University, Prof Nuri Andarwulan, menjelaskan bahwa matcha memang memiliki kandungan senyawa aktif yang bermanfaat, tetapi efeknya tidak sesederhana yang sering dipromosikan.
Menurutnya, matcha merupakan tepung teh hijau yang diproduksi melalui proses khusus. Tanaman teh dinaungi selama tiga hingga empat minggu sebelum panen (shade-growing) untuk meningkatkan kadar klorofil. Setelah dipanen dan dikeringkan, daun kemudian digiling sangat halus hingga menjadi bubuk.
BACA JUGA:Amarah Warga Meledak, Kantor Lurah Pasar Muara Beliti Rusak Diserang Massa
BACA JUGA:Overpass Dibangun, Herman Deru Perkuat Aturan Truk Batu Bara
Karena dikonsumsi dalam bentuk bubuk utuh, matcha membuat seluruh bagian daun ikut tertelan. Hal ini menyebabkan kandungan gizinya lebih banyak dikonsumsi dibandingkan teh hijau seduh biasa.
“Kandungan katekin pada matcha lebih tinggi. EGCG pada matcha bisa mencapai lebih dari 120 mg per gram, lebih tinggi dibanding green tea biasa,” jelas Nuri.
Katekin, khususnya epigallocatechin gallate (EGCG), dikenal sebagai antioksidan kuat yang mampu menangkal radikal bebas. Meski demikian, Nuri menekankan bahwa bioavailabilitas atau daya serap senyawa fenolik seperti EGCG pada tubuh manusia tergolong rendah.
“Kalau diserap, sangat kecil, di bawah lima persen. Sebagian besar masuk ke usus besar dan dimetabolisme oleh mikrobiota menjadi senyawa turunan,” paparnya.
BACA JUGA:Perkuat Pembinaan, Lapas Narkotika Muara Beliti Hadiri Arahan Virtual Dirjen Pemasyarakatan
BACA JUGA:Dulu Digandeng Alex Noerdin, Kini Gandi Menjadi Guru
Sumber: