Langkah ini memastikan bahwa meskipun tanpa susu UHT, anak-anak tetap mendapatkan asupan protein yang cukup untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
BACA JUGA:Kementerian Luar Negeri RI Pertimbangkan Nasib Pasukan Indonesia di Misi UNIFIL Lebanon
Peran Ahli Gizi Jadi Kunci
Untuk menjamin kualitas dan ketepatan komposisi menu, setiap SPPG telah dilengkapi dengan tenaga ahli gizi profesional. Mereka bertanggung jawab menyusun menu harian sekaligus menghitung kebutuhan bahan baku secara detail.
“Setiap SPPG memiliki Ahli Gizi yang bertugas menyusun menu dan menghitung berapa gram bahan baku yang dibutuhkan. Mereka memastikan menu yang didistribusikan sesuai dengan persen AKG yang sudah ditentukan pusat,” tegasnya.
Peran ahli gizi ini menjadi sangat penting agar setiap menu yang disajikan tetap seimbang, bergizi, dan sesuai kebutuhan anak di masing-masing wilayah.
BACA JUGA:Prabowo Targetkan Indonesia Produksi Sedan Listrik Massal pada 2028
BACA JUGA:Rahasia Cuko Pempek Pekat Ala Palembang, Dijamin Lezat dan Awet Berbulan-bulan
Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal
Dengan adanya kebijakan fleksibel ini, program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga berpotensi mendorong pemanfaatan komoditas lokal. Ketergantungan pada susu pabrikan dapat dikurangi, sementara bahan pangan seperti ikan, telur, dan produk nabati lokal bisa lebih diberdayakan.
BACA JUGA:Pembiayaan Kopi Sumsel Tembus Rp 500 Miliar, Dorong Petani Naik Kelas ke Pasar Global
Hal ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi para petani dan pelaku usaha lokal.
Program Makan Bergizi Gratis pun tetap diharapkan berjalan stabil dan berkelanjutan, tanpa terganggu oleh keterbatasan pasokan tertentu, sekaligus tetap memenuhi standar gizi nasional.