SILAMPARITV.CO.ID - Sutradara kenamaan Joko Anwar kembali menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menambah pemikiran melalui film terbarunya, “Ghost in the Cell”. Menariknya, di balik proses kreatif film ini, Joko justru harus menghadapi ketakutan pribadinya sendiri trypophobia atau fobia terhadap lubang.
BACA JUGA:Ghost in the Cell: Horor Komedi Joko Anwar yang Siap Bikin Takut sekaligus Ngakak
BACA JUGA:Psikolog Ungkap 5 Cara Mengenali Orang yang Pura-Pura Baik-Baik Saja
Dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Joko mengungkapkan bahwa dirinya dan produser Tia Hasibuan sama-sama mengidap trypophobia akut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama karena elemen visual utama dalam poster film tersebut justru menampilkan lubang-lubang yang cukup ekstrem.
Namun, alih-alih menghindar, Joko memilih untuk menghadapi ketakutannya itu secara langsung melalui pendekatan artistik. Ia menjelaskan bahwa visual lubang dalam poster bukan sekadar elemen horor, melainkan metafora dari sistem sosial yang dianggap “busuk”. Rasa jijik yang muncul dari penonton saat melihat poster tersebut, menurutnya, mencerminkan kejenuhan terhadap kondisi sosial yang ada.
BACA JUGA:Penting! Ini Alasan Harus Blokir STNK Setelah Jual Kendaraan
Lebih dalam lagi, lubang-lubang pada tubuh karakter hantu di poster sebenarnya memiliki makna tersembunyi. Joko menggambarkan bahwa setiap lubang tersebut berisi bukan kosong melainkan mewakili individu-individu yang terperangkap dalam sistem tanpa menyadari ancaman di dalamnya.
“Hantu dalam film ini bukan sekadar makhluk mistis,” jelasnya. “Ia adalah representasi dari sesuatu yang tidak kita pahami. Kita sering melabeli sesuatu sebagai ancaman ketika kita tidak mengerti. Dan rasa jijik itu sebenarnya adalah refleksi dari kondisi di dalamnya.”
BACA JUGA:Pesawat Presiden Prabowo Subianto Dikawal Jet Tempur di HUT ke-80 TNI Angkatan Udara
BACA JUGA:FIFA Diam-Diam Naikkan Harga Tiket Piala Dunia 2026, Fans Merasa Terkecoh
Sebagai bentuk perlawanan terhadap ketakutan sekaligus simbol harapan, Joko juga menghadirkan interpretasi alternatif: membayangkan bahwa lubang-lubang tersebut dipenuhi oleh tumbuhan, seperti bunga seroja. Elemen ini menjadi simbol harapan yang tumbuh di tengah kengerian.
BACA JUGA:Petani 53 Tahun di OKU Timur Diciduk, Bawa Sabu dan Ekstasi
Poster film ini juga menggambarkan hantu sebagai sisi tergelap manusia. Sosok tersebut muncul ketika manusia kehilangan harapan atau terjerumus dalam tindakan seperti korupsi. Dengan demikian, kehadiran “hantu” dalam film ini bukanlah sesuatu yang supernatural, melainkan representasi kondisi psikologis yang negatif.
Melalui “Ghost in the Cell”, Joko Anwar ingin mengajak penonton untuk melihat bahwa seni, khususnya film, dapat menjadi medium refleksi sosial. Ia berharap karya ini mampu menyuarakan keresahan kolektif masyarakat sekaligus membuka ruang diskusi tentang realitas yang sering diabaikan.