"Sudah ada perusahaan yang mulai merumahkan karyawan karena produksi tidak lagi berjalan sesuai kapasitas sebelumnya," katanya.
BACA JUGA:Viral Pocong di Kebun Pisang Tugumulyo Musi Rawas, Polisi Turun Langsung ke Lokasi
Produksi Batu Bara Menyusut
Ketua Dewan Penasihat Perhapi, Rizal Kasli, menambahkan bahwa keterlambatan penerbitan RKAB serta berkurangnya kuota produksi membuat banyak perusahaan harus menyesuaikan skala operasional.
Ia mencatat target produksi batu bara nasional turun menjadi sekitar 600 juta ton, jauh lebih rendah dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 790 juta ton.
Penurunan tersebut berdampak langsung pada penggunaan alat berat dan kebutuhan tenaga kerja di lapangan.
Menurut Rizal, potensi pengurangan tenaga kerja di sektor pertambangan dapat mencapai antara 35.000 hingga 50.000 orang apabila kondisi ini terus berlangsung.
"Banyak perusahaan akhirnya mengurangi penggunaan alat berat dan melakukan efisiensi tenaga kerja karena volume produksi tidak lagi maksimal," jelasnya.
BACA JUGA:Kebakaran Besar Gegerkan Warga Desa Bumi Ayu, Damkar dan Masyarakat Berjuang Padamkan Api
BACA JUGA:Warga Musi Rawas Heboh, Sosok Mirip Pocong Terekam Kamera Ponsel
Dampak Konflik Timur Tengah
Kenaikan harga solar industri tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dan produk turunannya mengalami gangguan sehingga mempengaruhi pasokan global.
Akibatnya, biaya logistik dan pengiriman energi meningkat tajam. Kondisi tersebut membuat harga bahan bakar diesel di berbagai negara melonjak dan memberikan tekanan tambahan terhadap sektor industri yang sangat bergantung pada energi, termasuk pertambangan.
BACA JUGA:Modus Pembeli di Facebook, Pria di Lubuk Linggau Rampas HP Milik Remaja
BACA JUGA:Curi Tas Berisi 3 HP di Kafe MC, Warga Megang Ditangkap Unit Reskrim Polsek Lubuk Linggau Utara