Budi Arie Tegaskan Projo Bukan Singkatan Dari Pro-Jokowi, Ternyata Berasal Dari Bahasa Sanskerta.

Budi Arie Tegaskan Projo Bukan Singkatan Dari Pro-Jokowi, Ternyata Berasal Dari Bahasa Sanskerta.

Budi Arie Tegaskan Projo Bukan Singkatan Dari Pro-Jokowi, Ternyata Berasal Dari Bahasa Sanskerta.--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menegaskan bahwa nama Projo bukanlah singkatan dari Pro-Jokowi sebagaimana yang selama ini diyakini banyak pihak. Ia menjelaskan bahwa istilah “Projo” sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi, yang memiliki makna luhur.

BACA JUGA:Istri Terlalu Aktif di Facebook, Suami Paruh Baya di Ogan Ilir Gelap Mata dan Aniaya.

BACA JUGA:Pemkab Musi Rawas Gelar Rakor Teknis Penguatan TPPS Untuk Tekan Angka Stunting 2025

“Projo itu bahasa Sanskerta-nya berarti negeri, dan dalam bahasa Jawa Kawi artinya rakyat,” ujar Budi Arie di sela-sela Kongres III Projo yang digelar di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, pada Sabtu (1/11/2025).

Menurut Budi, persepsi bahwa “Projo” adalah singkatan dari Pro-Jokowi muncul karena masyarakat dan media merasa istilah itu lebih mudah diucapkan dan diingat.

“Memang enggak ada singkatannya. Cuma teman-teman media yang menyingkat jadi Pro-Jokowi, karena gampang dilafalkan saja,” tambahnya.

BACA JUGA:Latihan Soal dan Kunci Jawaban PAI Kelas 5 SD Halaman 165 Kurikulum Merdeka

BACA JUGA:Satreskrim Polres Lubuk Linggau Tangkap Otak di Balik Curanmor Kosan di Taba Jemekeh

Transformasi Organisasi dan Rencana Ganti Logo

Dalam Kongres III Projo yang dihadiri sekitar 3.000 peserta dari 35 dewan pimpinan daerah (DPD) dan 479 dewan pimpinan cabang (DPC) di seluruh Indonesia, Budi Arie mengumumkan bahwa Projo tengah memasuki fase transformasi organisasi.

Salah satu bentuk transformasi tersebut adalah rencana perubahan logo Projo, yang saat ini masih menggunakan siluet wajah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

“Logo Projo kemungkinan akan kami ubah, supaya tidak terkesan kultus individu,” ujar Budi.

Ia menjelaskan, perubahan ini penting dilakukan agar organisasi relawan tersebut bisa tetap relevan dan tidak terikat pada sosok tertentu setelah masa pemerintahan Jokowi berakhir.

“Transformasi ini menjadi penting setelah kami menyelesaikan tugas mengawal pemerintahan Jokowi selama dua periode. Tantangan global saat ini besar, dan persatuan nasional menjadi hal yang sangat penting,” jelasnya.

Sumber:

Berita Terkait