Seleksi Penerima Beasiswa LPDP Dinilai Perlu Evaluasi, Pengamat Soroti Pentingnya Inovator dan Pelaku Lapangan

Seleksi Penerima Beasiswa LPDP Dinilai Perlu Evaluasi, Pengamat Soroti Pentingnya Inovator dan Pelaku Lapangan

Seleksi Penerima Beasiswa LPDP Dinilai Perlu Evaluasi, Pengamat Soroti Pentingnya Inovator dan Pelaku Lapangan--foto: ist

SILAMPARITV.CO.ID - Perbincangan mengenai penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali mencuat setelah muncul polemik terkait kewajiban pengabdian alumni. Isu ini mencuat menyusul kasus pasangan penerima beasiswa, Dwi Sasetyaningtyas dan Arya Pamungkas Iwantoro, yang menjadi sorotan publik karena tidak kembali ke Indonesia atau tidak menjalankan kewajiban pengabdian sesuai aturan.

Pengamat pendidikan Ina Liem menilai polemik tersebut seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem seleksi penerima beasiswa LPDP agar lebih tepat sasaran.

BACA JUGA:Rayakan 30 Tahun Pokémon, Nintendo Hadirkan Game Boy Jukebox Berisi 45 Lagu Klasik

BACA JUGA:Serangan Harimau di Kawasan TNKS Renggut Nyawa Warga Musi Rawas

Menurut Ina, selama ini proses seleksi terlalu menitikberatkan pada nilai akademik tinggi seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) serta kemampuan menjawab wawancara secara meyakinkan.

“Memang ada esai kontribusi dan wawancara. Tapi kita semua tahu sekarang banyak mentor yang mengajarkan cara lolos beasiswa. Jawaban bisa dilatih dan narasi bisa dipoles, sehingga yang lolos mayoritas tipe konseptor,” ujar Ina melalui video di akun Instagram @inaliem18, Kamis (5/3/2026).

BACA JUGA:Strategi Sumsel Tekan Inflasi Pangan: Dari Operasi Pasar hingga Penguatan 12 Kelompok Tani

BACA JUGA:Kapan Waktu Terbaik Membayar Zakat Fitrah? Ini Ketentuan serta Bacaan Niatnya

Dominasi Tipe Konseptor

Ina menjelaskan bahwa karakter akademis seperti kemampuan teori yang kuat dan komunikasi yang baik tentu merupakan hal positif. Tidak heran jika banyak penerima beasiswa yang setelah kembali ke Indonesia berkarier sebagai dosen, pembicara publik, motivator, atau influencer edukasi.

Namun menurutnya, Indonesia juga membutuhkan lebih banyak individu yang mampu mengeksekusi ide secara nyata di lapangan.

“Pertanyaannya, kita butuh berapa persen konseptor? Berapa persen praktisi, pendiri startup, atau orang yang pulang lalu membuka lapangan pekerjaan, bukan hanya mencari pekerjaan,” ujarnya.

Ia menilai tolok ukur IPK yang tinggi lebih banyak mengukur kemampuan teori, sementara kemampuan inovatif dan eksekusi tidak selalu tercermin dari nilai akademik. Faktor seperti ketangguhan, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan menjalankan ide juga penting untuk dinilai.

BACA JUGA:Industri Mie Basah di Lubuklinggau Digerebek, Polisi Amankan Pemilik Usaha

Sumber: