Harga Daging dan Santan Melonjak Tajam di Lubuklinggau Jelang Idul Fitri 2025

Harga Daging dan Santan Melonjak Tajam di Lubuklinggau Jelang Idul Fitri 2025--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, harga bahan pangan di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan harga ini menjadi keluhan utama masyarakat yang tengah bersiap menyambut hari kemenangan. Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan paling drastis adalah daging sapi dan santan kelapa, yang merupakan bahan utama dalam pembuatan hidangan khas Lebaran seperti rendang.
Pantauan langsung di Pasar Inpres Kota Lubuklinggau menunjukkan bahwa daging sapi dan santan menjadi komoditas yang paling diburu menjelang Lebaran. Namun, tingginya harga membuat banyak masyarakat berpikir ulang sebelum membeli.
“Daging sekarang sekilo (Kg) Rp 160 ribu, biasanya Rp 130 ribu, sementara santan Rp 60 ribu,” ungkap Rina, salah satu warga yang sedang berbelanja di Pasar Inpres Lubuklinggau pada Minggu (30/3/2025).
BACA JUGA:Peringati Hari Raya Nyepi, BRI Peduli Salurkan Bantuan Sembako Hingga Renovasi Pura
Dampak Kenaikan Harga terhadap Masyarakat
Rina mengaku bingung dengan lonjakan harga ini. Sebagai ibu dua anak, ia merasa terbebani karena harus menyiapkan rendang yang sudah menjadi tradisi dalam keluarganya saat Lebaran.
“Harga daging naik drastis, ditambah harga santan naik dua kali lipat. Tahun lalu meski daging mahal, santan masih murah, hanya Rp 30 ribu per kilogram,” ujarnya.
Ia pun terpaksa mengurangi jumlah bahan yang dibeli. Jika biasanya ia membuat rendang dengan tiga kilogram daging, kali ini ia hanya mampu membeli 1,5 kilogram karena keterbatasan anggaran. Apalagi, untuk membuat rendang dibutuhkan santan dalam jumlah banyak.
“Kalau mau beli santan kemasan, harganya jauh lebih mahal lagi. Mau tidak mau tetap beli, meskipun jumlahnya dikurangi,” tambahnya.
Pedagang: Kenaikan Harga Sudah Terjadi Sejak Sebelum Ramadan
BACA JUGA:Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Pastikan Infrastruktur Kelistrikan dalam Kondisi Prima
BACA JUGA:BMKG Sumsel Keluarkan Peringatan Dini: Hujan Deras Berpotensi Landa Sejumlah Wilayah Jelang Lebaran
Sementara itu, Edo, salah satu pedagang santan di Pasar Inpres Lubuklinggau, mengungkapkan bahwa kenaikan harga santan sudah mulai terasa sejak sebelum Ramadan 1446 Hijriah. Menurutnya, penyebab utama kenaikan harga adalah langkanya kelapa tua sebagai bahan baku utama santan.
“Bahan baku kelapa tua sulit didapat, sementara permintaan meningkat saat Ramadan dan menjelang Lebaran,” bebernya.
Saat ini, harga santan murni di pasaran masih berada di angka Rp 70 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. Selain itu, harga kelapa tua per butir yang sebelumnya berada di kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 13 ribu, kini melonjak menjadi Rp 17 ribu per butir.
Namun, meskipun harga melonjak, permintaan masih tetap tinggi. “Walaupun mahal, masyarakat masih membeli santan, mungkin karena kebutuhan untuk membuat masakan khas Lebaran,” tambah Edo.
Pemerintah: Kelapa Bukan Komoditas Lokal
Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Lubuklinggau, Meidhioline, menjelaskan bahwa harga santan dan kelapa mengalami kenaikan karena pasokan kelapa di Lubuklinggau berasal dari luar daerah.
BACA JUGA:Harga Emas Perhiasan di Palembang Pecah Rekor Menjelang Idul Fitri 1446 H
BACA JUGA:Hindari Makanan Ini Saat Mudik Agar Tidak Mabuk Perjalanan
“Memang naik karena santan kelapanya bukan dari Linggau, tapi dari luar kota. Jadi pedagang mendapatkannya dengan harga yang sudah tinggi,” ujarnya singkat.
Lonjakan harga bahan pangan menjelang Idul Fitri di Lubuklinggau memberikan dampak signifikan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada bahan-bahan ini untuk memasak hidangan khas Lebaran. Pedagang mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku, sementara konsumen harus beradaptasi dengan mengurangi jumlah pembelian atau mencari alternatif yang lebih terjangkau.
Pemerintah diharapkan dapat mencari solusi guna menekan lonjakan harga ini agar masyarakat tetap dapat merayakan Idul Fitri dengan hidangan khas tanpa terbebani biaya yang terlalu tinggi.
BACA JUGA:Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1446 H Jatuh pada Senin, 31 Maret 2025
BACA JUGA:Pedagang Kue Lebaran di Pasar B Srikaton Kebanjiran Pembeli Menjelang Idul Fitri
Sumber: