Perawat Asal Inggris Berlutut Memohon ke Polisi Mesir, Ingin Masuk ke Palestina untuk Beri Bantuan.

Perawat Asal Inggris Berlutut Memohon ke Polisi Mesir, Ingin Masuk ke Palestina untuk Beri Bantuan.

Perawat Asal Inggris Berlutut Memohon ke Polisi Mesir, Ingin Masuk ke Palestina untuk Beri Bantuan.--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan seorang pria asal Inggris berlutut di depan polisi Mesir, memohon agar diizinkan memasuki Palestina melalui perbatasan Rafah untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan.

BACA JUGA:Dana Desa Rp. 334 Juta Raib Digondol Maling Saat Mobil Parkir di Rumah Makan di PALI

BACA JUGA:190 Kasus HIV Terdeteksi di Kota Malang per Pertengahan 2025

Aksi Mengharukan di Tengah Krisis Kemanusiaan

Dalam rekaman tersebut, pria yang diketahui sebagai seorang perawat ini terlihat menahan tangis sambil berbicara kepada pasukan keamanan Mesir. Dengan suara bergetar, ia mengatakan, "Di mana hatimu? Aku percaya bahwa orang-orang Arab memiliki hati yang bersih. Aku percaya kamu adalah orang baik. Mereka anak-anak kelaparan, aku berusaha untuk memberi makan anak-anak. Untuk cinta, untuk kemanusiaan, untuk Islam, berdiri bersama orang-orang Islammu."

Ia juga menambahkan bahwa banyak bayi dan wanita di Gaza yang kelaparan dan tidak mampu menyusui anak-anak mereka karena kekurangan makanan dan persediaan medis. "Bayi-bayi dan wanita-wanita yang mencoba memberi makan bayi-bayi sekarat mereka dan ASI untuk mereka sudah tidak ada," ujarnya dengan penuh emosi.

BACA JUGA:Pelajar SMP di OKU Disodomi Tetangga Saat Tagih Utang, Polisi Lakukan Visum.

BACA JUGA:Karen's Diner, restoran dengan konsep 'pelayanan kasar dengan candaan' resmi tutup permanen akhir Juni 2025.

Krisis Kemanusiaan di Gaza

Situasi di Gaza semakin memburuk dengan adanya blokade yang menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan. Menurut laporan dari Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), lebih dari 400.000 orang mengungsi ke selatan Gaza dan berlindung di sekolah-sekolah yang dikelola UNRWA. Namun, mereka kekurangan air bersih dan makanan. UNRWA hanya memiliki satu liter air per hari untuk setiap stafnya yang terjebak di wilayah tersebut. "Gaza kehabisan air, dan Gaza kehabisan kehidupan," kata Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA, seraya mendesak agar blokade segera dihentikan.

BACA JUGA: Suami di Lubuklinggau Pukul Istri Pakai Botol Berisi Air Keras, Pelaku Serahkan Diri.

BACA JUGA: Identitas Korban Mayat dalam Karung Goni di OKI Terungkap: Remaja 19 Tahun yang Pamit Lamar Kerja

Tantangan dalam Menyalurkan Bantuan

Meski ada upaya dari berbagai pihak untuk mengirimkan bantuan ke Gaza melalui Mesir, prosesnya tidak mudah. Beberapa konvoi bantuan mengalami hambatan dan bentrokan dengan pasukan keamanan Mesir. Pada Januari 2010, misalnya, pasukan keamanan Mesir melemparkan batu kepada anggota konvoi yang dipimpin oleh politisi Inggris George Galloway yang berusaha memasukkan pasokan bantuan ke Gaza. Pasukan keamanan juga menahan beberapa anggota konvoi tersebut.

Sumber: