Anak Tak Sering Curhat Bukan Tak Sayang, Psikologi Ungkap Alasannya
Anak Tak Sering Curhat Bukan Tak Sayang, Psikologi Ungkap Alasannya--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Tidak sedikit orang tua yang mulai merasa ada perubahan ketika anaknya tumbuh dewasa, hidup mandiri, atau merantau jauh dari rumah. Percakapan yang dulu hangat dan penuh cerita kini terasa singkat dan seperlunya. Pertanyaan tentang pekerjaan, kondisi perasaan, atau masalah hidup sering dijawab ringkas, tanpa membuka ruang cerita lebih dalam.
Situasi ini kerap menimbulkan tanda tanya dan kegelisahan emosional. Sebagian orang tua menafsirkan sikap tersebut sebagai tanda menjauh, kurang percaya, atau bahkan berkurangnya kedekatan batin. Namun, dari sudut pandang psikologi, jarangnya anak dewasa mencurahkan isi hati kepada orang tua bukanlah persoalan hitam-putih soal peduli atau tidak peduli.
BACA JUGA:Jelang Ramadan, Harga Sejumlah Bahan Pokok Masih Rawan Naik
BACA JUGA:Pemerintah Perluas CKG, Pengobatan Gratis Resmi Diterapkan Tahun Ini
Psikologi perkembangan dan relasi keluarga memandang fenomena ini sebagai bagian dari dinamika emosional yang kompleks. Dalam banyak kasus, sikap jarang bercerita justru berkaitan erat dengan kemandirian emosional, empati terhadap orang tua, serta cara seseorang belajar mengelola tekanan hidupnya sendiri.
Dengan kata lain, diam tidak selalu bermakna menjauh. Tidak banyak curhat bukan otomatis pertanda renggangnya hubungan keluarga. Ada sejumlah pola psikologis yang membuat seseorang memilih menyimpan cerita, bahkan dari orang terdekatnya.
BACA JUGA: Durasi Main Aplikasi Kian Menggila, Warga Dunia Habiskan Ratusan Jam Setahun di HP
BACA JUGA:Pemerintah Ungkap Performa Internet Indonesia 2025, 5G Masih Terbatas Tapi Kecepatan Naik
1. Terbentuknya Kemandirian Emosional Sejak Dini
Sebagian orang dewasa tumbuh dengan kebiasaan menyelesaikan persoalan sendiri. Mereka terbiasa mengatur emosi, menenangkan diri, dan mencari solusi tanpa banyak bergantung pada orang lain.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai self-reliant coping, yakni cara menghadapi stres dengan mengandalkan kekuatan internal. Pola ini tidak selalu bermasalah, tetapi membuat seseorang merasa lebih nyaman memproses masalah secara pribadi dibandingkan membagikannya.
BACA JUGA:Aturan Royalti Musik Belum Jelas, AKSI Masih Menanti Keputusan DPR
BACA JUGA:KDRT Berujung Kematian, Pelaku di Lubuklinggau Dituntut 15 Tahun Bui
2. Tidak Ingin Menambah Beban Pikiran Orang Tua
Sumber: