Di Sumatera Barat, khususnya dalam budaya Minangkabau, gulai bersantan memiliki makna sosial yang kuat. Hidangan ini kerap disajikan dalam acara adat, perayaan keluarga, hingga jamuan tamu kehormatan. Gulai menjadi simbol kebersamaan, penghormatan, dan kehangatan dalam budaya makan bersama
Santan yang kaya lemak berfungsi menyatukan bumbu dan bahan, menghasilkan rasa yang mendalam dan memuaskan. Hal ini selaras dengan nilai kolektivitas yang dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Sumatera.
BACA JUGA:Hadapi KUHP Baru, Lapas Narkotika Muara Beliti Perkuat Pelayanan Tahanan Lewat Zoom Ditjen PAS
BACA JUGA:Aman dan Efektif, 5 Cara Membersihkan Kerak Kompor Gas Hingga Kinclong.
Ragam Gulai Khas dari Berbagai Daerah
Setiap daerah di Sumatera memiliki gulai khas dengan cita rasa dan filosofi masing-masing. Di Lampung, misalnya, terdapat gulai uleu sapei, kuliner khas Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Hidangan ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat. Selain itu, masyarakat Lampung juga mengenal seruit, sajian khas yang sarat nilai kebersamaan.
Di Sumatera Utara, terdapat gulai asam ikan baung khas Kabupaten Asahan. Hidangan tradisional masyarakat Melayu Asahan ini kerap disajikan dalam acara adat sebagai simbol penghormatan. Namun, keberadaan gulai ini kini terancam karena populasi ikan baung yang semakin menurun drastis. Ukuran ikan semakin kecil dan keberadaannya di pasar tradisional pun kian langka.
Kondisi tersebut mendorong Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatera Utara melakukan Inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) terhadap gulai asam ikan baung sebagai upaya pelestarian warisan budaya kuliner.
Sementara itu, dari Sumatera Barat dikenal gulai tunjang berbahan dasar kikil sapi serta gulai tambusu. Gulai tunjang lahir dari nilai anti-pemborosan dalam budaya Minangkabau, di mana seluruh bagian bahan makanan dimanfaatkan secara bijak.
BACA JUGA:Aksi Humanis Damkar Bekasi, Bujuk Remaja 15 Tahun yang Takut Disunat
Warisan yang Terus Dijaga
Dengan perpaduan kelimpahan bahan alam, pengaruh sejarah perdagangan, serta makna sosial yang kuat, gulai bersantan menjadi lebih dari sekadar makanan bagi masyarakat Sumatera. Ia adalah warisan budaya yang mencerminkan sejarah, identitas, dan filosofi hidup masyarakatnya.
Hingga kini, gulai bersantan tetap lestari di dapur-dapur tradisional dan menjadi bukti bahwa kuliner dapat menjadi penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan.
BACA JUGA:Sederhana tapi Ampuh, 5 Kebiasaan Sebelum Tidur untuk Turunkan Tekanan Darah
BACA JUGA:Resmi! Redmi Note 15 5G Jadi Andalan Baru Xiaomi di Kelas Menengah 2026